Make your own free website on Tripod.com

Smile_akh Site....

Ar- Ridho personal dakwah Web Site                                                                                 

 [Under Construction]                                                                                                                                                                   

"k hairunnas anfa'uhum linnas"  The most of You is most contribution for the people

daftar menu :

Home

 

Foto_foto

Foto Ridho

Latar Dunia Islam

 

Profile

Hobby

Organisasi

Pengalaman

 

From Friend

Hadiah Teman

Forum ikhwah

 

Artikel

Artikel Islam

Artikel Politik

Artikel Lainnya

jazakumullah khair

Fiqh Prioritas

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

Indeks Islam | Indeks Qardhawi | Indeks Artikel | Tentang Pengarang

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

PERBEDAAN TINGKAT KEUTAMAAN SESUAI DENGAN TINGKAT
PERBEDAAN WAKTU, TEMPAT DAN KEADAAN

DI  SINI  masalah  yang  perlu  dijelaskan,  yaitu   prioritas
pelbagai   perkara  yang  berkaitan  dengan  perbedaan  waktu,
tempat, pribadi, dan keadaan.

Kebanyakan,  hal   itu   berkaitan   dengan   perbedaan   yang
dipengaruhi oleh waktu, lingkungan, dan pribadi seseorang. Dan
banyak sekali contoh untuk ini.

AMALAN DUNIAWI YANG PALING AFDAL

Ulama kita berbeda pendapat mengenai jenis pekerjaan mana yang
paling  utama  dan  paling banyak pahalanya di sisi Allah SWT,
apakah pertanian, perindustrian, ataukah perdagangan?

Penyebab  perbedaan  pendapat  ini  ialah  hadits-hadits  yang
menjelaskan keutamaan masingmasing jenis pekerjaan tersebut.

Keutamaan Pertanian dijelaskan oleh hadits berikut ini.

   "Tidak ada seorang Muslimpun yang bercocok tanam
   kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang
   lainnya kecuali hal itu dianggap sebagai shadaqah yang
   dikeluarkan olehnya." 43

Tentang keutamaan perindustrian diterangkan oleh hadits,

   "Tidak seorangpun yang memakan makanan yang lebih balk
   dibandingkan dengan makanan yang berasal dari
   pekerjaan tangannya sendiri." 44

Tentang keutamaan berniaga dijelaskan oleh hadits,

   "Seorang pedagang yang jujur akan dibangkitkan bersama
   para nabi dan orang-orang jujur serta para syahid." 45

Karena adanya hadits-hadits tersebut, maka para ulama ada yang
lebih mengutamakan satu profesi atas yang lainnya. Akan tetapi
para ulama yang  mengecek  kebenaran  ketiga  hadits  tersebut
berkata,  "Kami tidak melebihkan sama sekali satu profesi atas
yang lainnya,  tetapi  keutamaannya  terletak  pada  keperluan
masyarakat terhadap ketiga profesi tersebut."

Kalau  sedang  terjadi  masa kekurangan pangan, dan masyarakat
sangat  memerlukan  bahan  makanan  sehari-hari  mereka,  maka
pertanian  adalah  paling  utama dibandingkan dua profesi yang
lainnya, karena  dapat  menjaga  umat  dari  kelaparan,  sebab
kelaparan merupakan bencana yang sangat membahayakan. Sehingga
dalam hal ini pertanian dianggap dapat menyiapkan  bahan-bahan
makanan.   Kalau   pertanian   merupakan  sesuatu  yang  sulit
diusahakan,  maka  kesabaran  untuk  tetap  bertani  merupakan
pekerjaan yang paling utama.

Kalau  bahan makanan melimpah, pertanian mudah diusahakan, dan
orang-orang  memerlukan  pelbagai  industri,   sehingga   kaum
Muslimin  tidak  perlu  lagi  mengimpor barang-barang industri
tersebut; perindustrian dapat membuka lapangan kerja bagi para
penganggur;  serta  dapat  melindungi keamanan negara --karena
adanya perindustrian senjata;  dan  dapat  menutup  kekurangan
produksi  umat,  maka  perindustrian  merupakan pekerjaan yang
paling utama.

Ketika dunia pertanian dan perindustrian  tercukupi,  kemudian
masyarakat  memerlukan  orang  yang  memasarkan  kedua  produk
tersebut ke negara lain,  sehingga  orang  tersebut  merupakan
perantara  yang  baik antara produsen dan konsumen; dan ketika
dunia  perniagaan  dikuasai  oleh  orang-orang   yang   tamak,
penimbun  harta  benda  dan  keperluan  orang banyak, sehingga
mereka dapat memainkan harga di pasaran, maka  pekerjaan  yang
paling  utama  pada saat itu ialah perdagangan. Khususnya bila
perdagangan  ini  dilakukan  oleh   orang-orang   yang   tidak
melalaikan  Allah  SWT,  shalat  dan  zakat  karena  melakukan
perniagaan tersebut.

Satu hal yang sangat diperlukan oleh umat kita pada  abad  ini
ialah teknologi canggih, sehingga umat dapat memasuki abad ini
dengan senjata  ilmu  pengetahuannya,  dan  tidak  ketinggalan
zaman.  Umat tidak akan dapat membangkitkan misi Islamnya yang
sangat dihormati oleh Allah SWT  dan  diberi  kenikmatan  yang
sempurna   sehingga   mereka   dapat  mengajak  seluruh  dunia
kepadanya, kalau umat ini  kalah  dengan  yang  lainnya  dalam
peralatan dan senjata yang canggih.

Oleh   sebab  itu,  metodologi  dan  sistem  pendidikan  harus
ditingkatkan untuk mencapai tujuan tersebut dan  mengembalikan
lagi  kedudukan Islam yang terhormat di mata dunia. Ketika itu
Islam mempunyai peradaban yang sangat maju, dengan  akar  yang
mendalam, cabang yang sangat luas, serta siap menyongsong masa
depan. Metodologi dan  sistem  pendidikan  itu  harus  melihat
kepada  hal-hal  yang  sangat  diperlukan  oleh Islam dan umat
Islam,  serta  perkembangan  dunia   ilmu   pengetahuan   yang
dipadukan dengan akidah, sistem dan peradaban Islam.

Sesungguhnya  penguasaan  teknologi canggih dan ilmu-ilmu yang
menjadi  perantara  ke  arah  itu  merupakan  satu   kewajiban
sekaligus  kepentingan.  Kewajiban yang diwajibkan oleh agama,
dan  kepentingan  yang  didesak  oleh  kehidupan  nyata   kaum
Muslimin.  Itulah  prioritas  yang harus didahulukan oleh umat
kita sekarang ini.

IBADAH YANG PALING UTAMA

Masalah ibadah juga serupa dengan hal di atas, dalam kaitannya
dengan  individu.  Para ulama berselisih pendapat mengenai hal
ini, sehingga banyak sekali pendapat yang mereka kemukakan.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran  menurut  saya  ialah
pendapat   Imam  Ibn  al-Qayyim,  walaupun  dia  juga  berbeda
pendapat dengan orang lain, dari  satu  waktu  ke  waktu  yang
lain,  dan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari satu
keadaan kepada keadaan yang lain.

Dalam  buku  al-Madarij,  imam   Ibn   al-Qayyim   mengatakan,
"Kemudian  orang  yang termasuk kelompok 'Hanya kepada-Mu kami
menyembah' mempunyai hak untuk  memiliki  ibadah  yang  paling
utama,  paling  bermanfaat, dan paling berhak untuk melebihkan
ibadatnya daripada yang lain. Ada empat golongan yang termasuk
dalam kelompok ini:

Pertama,  adalah  kelompok  yang  memandang  bahwa ibadah yang
paling bermanfaat dan paling afdal adalah ibadah  yang  paling
sukar dan sulit untuk dilaksanakan.

Mereka berkata, "Karena sesungguhnya hal itu merupakan sesuatu
yang paling jauh dari hawa nafsu, sekaligus merupakan  hakikat
penghambaan."

Mereka  berkata,  "Pahala  yang  kita  terima  akan tergantung
kepada  tingkat   kesulitan   yang   kita   lakukan."   Mereka
meriwayatkan hadits yang tidak ada dasarnya: "Amal ibadah yang
paling afdal ialah yang paling sulit dan sukar dilakukan." 46

Mereka memang orang perfeksionis dan penyiksa jiwa mereka.

Mereka berkata, "Hanya dengan cara seperti itu jiwa kami  bisa
lurus,  karena  jiwa ini memiliki sifat malas dan lemah, serta
hendak menyatu dengan bumi. Jiwa itu tidak akan  baik  kecuali
dengan memberikan beban berat dan kesulitan padanya.

Kedua,  mereka  yang mengatakan bahwa ibadah yang paling utama
ialah  melepaskan  diri  dan  menjauhi  dunia,   mempersedikit
kepentingan  kita terhadap nya, dan tidak memberikan perhatian
kepadanya. Kelompok ini terbagi menjadi dua:

1) Kelompok awam yang menduga bahwa perkara ini
   merupakan tujuan akhir, sehingga mereka berusaha keras
   untuk mencapainya. Mereka mengajak orang untuk
   melakukannya. Mereka berkata, "Perbuatan ini lebih utama
   daripada ilmu dan ibadah." Sehingga mereka memandang
   bahwa zuhud di dunia merupakan tujuan dan inti ibadah.
   
2) Kelompok khusus yang melihat bahwa perkara ini
   merupakan tujuan antara, untuk mencapai tujuan yang
   lebih jauh yaitu ketenangan hati terhadap Allah SWT.
   Menumpukan segala perhatian dan mengosongkan hati untuk
   mencintai dan menyerahkan diri kepada Allah, bertawakkal
   kepada-Nya dan menyibukkan diri untuk mencari
   keridhaan-Nya. Mereka memandang bahwa ibadah yang paling
   utama ialah dalam kelompok yang cinta kepada Allah,
   terus berzikir dengan hati dan lisan, serta menyibukkan
   diri untuk selalu mengingat-Nya tanpa mempedulikan
   perbedaan yang terdapat dalam hati. Kelompok inipun
   terbagi menjadi dua:
   
   a) Kelompok 'arifun, yang apabila datang perintah dan
      larangan mereka segera melakukannya walaupun mereka
      harus berpisah dan melepaskan kelompoknya.
      
   b) Kelompok yang menyimpang, yaitu orang-orang yang
      berkata, "Tujuan ibadah ialah menyatukan hati kepada
      Allah. Jika ada sesuatu yang dapat memisahkan diri
      mereka dari Allah maka mereka tidak berpaling kepadanya.
      Barangkali salah seorang di antara mereka berkata, "Yang
      harus diminta untuk berwirid adalah orang yang lalai.
      Mengapa hati yang semua waktunya dipenuhi dengan wirid
      juga diminta untuk itu?"

Kelompok  ini  terbagi  lagi  menjadi dua, yaitu kelompok yang
meninggalkan kewajiban dan fardhu  untuk  perkumpulannya;  dan
kelompok  yang mengerjakan kewajiban tetapi meninggalkan semua
amalan sunat. Sebagian pengikut kelompok ini  pernah  bertanya
kepada seorang syaikh yang arif: "Jika muadzin mengumandangkan
adzan dan aku sedang berada di perkumpulanku  terhadap  Allah,
lalu jika aku berdiri dan ke luar, maka aku akan terpisah dari
mereka. Tetapi jika aku tetap di tempat itu,  maka  aku  tetap
berada  di  perkumpulanku.  Manakah  kedua  hal ini yang lebih
utama bagiku?"

Syaikh  yang  arif  menjawab,  "Jika  muadzin  mengumandangkan
adzan,  dan  engkau  berada di bawah Arsy, maka berdirilah dan
jawablah orang yang mengajak kepada Allah, kemudian kembalilah
ke  tempatmu. Hal ini karena sesungguhnya perkumpulan terhadap
Allah merupakan bagian daripada ruh  dan  hati,  dan  menjawab
ajakan   muadzin  adalah  hak  Tuhan.  Maka  barangsiapa  yang
mendahulukan  kepentingan  ruhnya  atas  hak  Tuhannya,  tidak
termasuk kelompok "hanya kepada-Mu kami menyembah"."

Ketiga,  adalah kelompok yang melihat bahwa ibadah yang paling
bermanfaat ialah ibadah yang sangat banyak manfaatnya.  Mereka
memandang  bahwa  ibadah  ini lebih utama daripada ibadah yang
sedikit manfaatnya. Mereka melihat bahwa  berkhidmat  terhadap
fakir  miskin, menyibukkan diri untuk kemaslahatan manusia dan
memenuhi hajat  keperluan  mereka,  memberikan  bantuan  harta
benda  dan  tenaga  merupakan ibadah yang paling utama. Mereka
berusaha keras untuk melakukan ibadah ini,  berdasarkan  sabda
Nabi saw,

   "Semua makhluk ini adalah (berada dalam) asuhan Allah;
   dan mereka yang paling dicintai-Nya ialah (mereka)
   yang paling bermanfaat bagi asuhan-Nya." (Diriwayatkan
   oleh Abu Ya'la)47

Mereka berhujjah  bahwa  amalan  orang  yang  beribadah  hanya
kembali  kepada  dirinya  sendiri, sedangkan amalan orang yang
bermanfaat menjalar kepada orang  lain.  Manakah  kedua  jenis
orang ini yang lebih utama?

Mereka  berkata,  "Oleh  karena  itulah orang alim lebih utama
daripada orang yang ahli ibadah, sebagaimana  kelebihan  bulan
purnama atas bintang gemintang yang lain."48

Mereka  berkata  bahwa  Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin
Abu Thalib r.a.

   "Sungguh bila engkau dapat memberikan petunjuk Allah
   kepada satu orang, maka hal itu lebih baik daripada
   melimpahnya berbagai nikmat kepada dirimu." 49

Pemberian keutamaan seperti ini ialah  karena  adanya  manfaat
yang  dapat  dirasakan  oleh  orang  lain. Di samping itu, ada
argumentasi lain, berupa sabda Rasulullah saw,

   "Barangsiapa mengajak orang kepada suatu petunjuk,
   maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang
   yang mengikat, petunjuknya, tanpa mengurangi
   sedikitpun pahala orang yang melakukannya." 50

Mereka juga berargumentasi dengan sabda Rasulullah saw,

   "Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat
   kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada
   manusia." 51
   
   "Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan
   ampunan kepada Allah oleh semua penghuni langit dan
   bumi, sampai ikan hiu yang ada di lautan dan semut
   yang berada di lubangnya." 52

Merekajuga mengemukakan argumentasi  bahwa  sesungguhnya  para
nabi  diutus  ke  dunia ini untuk menyampaikan kebaikan kepada
makhluk-Nya dan memberikan petunjuk Allah kepada mereka,  agar
kehidupan  dunia  dan  akhirat  mereka betul-betul bermanfaat.
Para nabi itu tidak diutus  untuk  menyampaikan  agar  manusia
berkhalwat  (menyendiri)  dan  memisahkan  diri dari keramaian
manusia, agar mereka hidup seperti pendeta.  Oleh  karena  itu
Nabi  saw tidak begitu suka terhadap orang yang memperuntukkan
seluruh waktunya untuk beribadah  dan  meninggalkan  pergaulan
dengan   manusia.   Mereka   melihat   bahwa   berpisah  untuk
melaksanakan urusan Allah, dan memberikan perkhidmatan  kepada
hamba-Nya  dan  melakukan  kebajikan untuk mereka adalah lebih
utama daripada perkumpulan mereka.

Keempat, ialah kelompok  yang  mengatakan  bahwa  ibadah  yang
paling  utama  ialah  bekerja untuk memperoleh keridhaan Tuhan
setiap waktu, dengan  melihat  keperluan  yang  mendesak  pada
waktu itu. Oleh sebab itu, ibadah yang paling utama pada waktu
perjuangan adalah berjuang, walaupun  dia  harus  meninggalkan
wirid, shalat malam dan puasa sunat; dan bahkan menunda shalat
fardhu, kalau keadaan tidak aman.

Yang paling  utama,  menurut  mereka,  kalau  kita  kedatangan
seorang  tamu, maka kita harus menghormatinya, dan menyibukkan
diri dalam menyambutnya walaupun kita harus meninggalkan wirid
yang  sunat.  Begitu  pula  dalam  memberikan layanan terhadap
istri dan keluarga.

Ibadah yang paling utama pada waktu  sahur  ialah  shalat  dan
membaca al-Qur'an, berdo,a, berdzikir, dan beristighfar.

Ibadah  yang paling utama ketika kita mengajar murid-murid dan
mengajar orang  yang  bodoh  ialah  betul-betul  mengajar  dan
memusatkan pikiran kepada tugas yang kita emban itu.

Ibadah  yang  paling utama pada waktu adzan ialah meninggalkan
wirid, dan segera menyambut seruan muadzin.

Ibadah yang paling utama pada waktu shalat  fardhu  yang  lima
ialah  bersungguh-sungguh  melaksanakannya sesempurna mungkin,
dan segera melaksanakannya pada awal waktunya.  Keluar  menuju
masjid, dan semakin jauh tempatnya maka semakin utama.

Kalau  pada suatu waktu tenaga kita sangat diperlukan dan juga
harta benda kita,  maka  kita  harus  mempersiapkan  pemberian
bantuan  itu,  dan  lebih  mendahulukan pekerjaan ini daripada
membaca wirid dan berkhalwat.

Amalan yang  paling  utama  ketika  kita  mendengarkan  bacaan
al-Qur'an   ialah  memusatkan  hati  dan  pikiran  kita  untuk
menghayati  dan  memahaminya  seakan-akan  Allah  SWT   sedang
berbicara  kepada  kita.  Kalau  seluruh  perhatian  hati kita
terpusat pada apa yang  difirmankan  oleh-Nya,  maka  kehendak
hati  kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya adalah lebih
utama daripada memusatkan hati kita kepada surat  yang  datang
dari penguasa.

Amalan yang paling utama ketika kita sedang berwukuf di Arafah
ialah  bersungguh-sungguh  merendahkan  hati,   berdo'a,   dan
berzikir  kepada  Allah,  tanpa  harus melaksanakan puasa yang
dapat melemahkan tubuh kita ketika itu.

Amalan yang paling utama  pada  tanggal  sepuluh  Dzul  Hijjah
ialah  memperbanyak  ibadah, khususnya membaca takbir, tahlil,
dan tahmid. Hal ini lebih  utama  daripada  jihad  yang  bukan
fardhu 'ain.

Amalan  yang paling utama pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan
ialah pergi ke masjid, berkhalwat, beri'tikaf dan meninggalkan
pergaulan dengan manusia. Sehingga banyak ulama yang memandang
bahwa hal ini lebih utama  daripada  mengajarkan  ilmu  kepada
mereka, dan mengajar mereka membaca al-Qur'an .

Amalan   yang  paling  utama  ketika  teman  kita  sakit  atau
meninggal   dunia   ialah   menjenguknya,   dan   mengantarkan
jenazahnya, serta mengutamakan hal ini daripada berkhalwat dan
menghadiri perkumpulan kita.

Amalan yang paling utama ketika turun bencana  ialah  bersabar
terhadap  orang  yang  ada  di sekitarmu tanpa harus melarikan
diri  dari  mereka.  Karena  sesungguhnya  orang  mu'min  yang
bergaul  dengan  manusia  harus bersabar terhadap bencana yang
menimpa mereka. Bersabar terhadap mereka adalah  lebii,  utama
daripada  tidak  bergaul  dengan  mereka  yang  menyakiti hati
mereka. Yang paling utama  ialah  tetap  bergaul  baik  dengan
mereka.  Hal  ini  lebih  baik  daripada mengucilkan diri dari
mereka ketika mereka mendapatkan bencana. Kalau  kita  melihat
bahwa bila kita bergaul dengan mereka akan dapat menghilangkan
atau mengurangi kesedihan mereka maka  bergau1  dengan  mereka
dipandang lebih utama daripada mengucilkan diri dari mereka.

Amalan  yang  paling  utama  setiap  waktu  ialah mengutamakan
pencapaian keridhaan Allah SWT pada setiap waktu dan  keadaan,
memusatkan perhatian terhadap kewajiban, dan tugas kita setiap
waktu.

Orang-orang seperti ini adalah orang yang  memang  benar-benar
ahli  ibadah.  Sedangkan  tiga  kelompok  sebelum kelompok ini
adalah ahli ibadah yang tidak mutlak.  Apabila  salah  seorang
dari  tiga  kelompok ini ke luar dari kelompoknya dan berpisah
dari mereka, maka dia melihat dirinya kurang dan  meninggalkan
ibadahnya. Mereka menyembah Allah SWT dengan satu bentuk saja.
Sedangkan orang yang disebut sebagai ahli ibadah  yang  mutlak
ialah  yang  tidak  mempunyai  tujuan dalam ibadahnya, kecuali
hanya mencari keridhaan  Allah  SWT  di  manapun  dia  berada,
walaupun  dia  harus  mendahulukan  urusan  yang  lainnya. Dia
senantiasa berpindah-pindah dalam tingkatan ibadahnya,  setiap
kali   ada   kesempatan   baginya   untuk  meningkatkan  taraf
peribadatannya. Dia akan memusatkan perhatiannya kepada amalan
yang  sedang  dihadapinya  di manapun dia berada sampai tampak
ada tingkatan lain yang  lebih  tinggi.  Dia  terus  meningkat
sehingga berakhir perjalanan hidupnya.

Ketika Anda melihat ulama, dia berada di tengah-tengah mereka;
jika  Anda  melihat  para  hamba,  maka  kamu  melihatnya   di
tengah-tengah  mereka;  jika  Anda  melihat para pejuang, maka
kamu melihatnya berada  di  tengah-tengah  mereka;  jika  Anda
melihat  orang  yang  berdzikir,  maka Anda akan melihatnya di
tengah tengah  mereka;  jika  Anda  melihat  orang-orang  yang
bershadaqah  dan  melakukan  kebajikan,  maka  Anda melihatnya
bersama mereka; jika Anda melihat orang-orang yang  memusatkan
perhatiannya  kepada  Allah SWT, maka Anda menemukannya berada
di tengah-tengah mereka. Dia adalah hamba  yang  mutlak,  yang
tidak  memiliki  bentuk,  tidak terikat, dan amal perbuatannya
tidak ditujukan untuk  dirinya  sendiri,  walaupun  dia  tidak
merasakan  kelezatan  dan  kenikmatan  beribadah. Tetapi semua
perbuatannya  hanya   ditujukan   untuk   Tuhannya,   walaupun
kelezatan  dan  kenikmatan  beribadah itu ada pada orang lain.
Orang seperti inilah  yang  dianggap  telah  dapat  mewujudkan
"hanya  kepada-Mu  kami  menyembah  dan  hanya  kepada-Mu kami
memohon pertolongan." Dia melaksanakan ayat ini dengan  benar,
mengenakan  pakaian  yang  telah tersedia, memakan yang paling
mudah, dan memusatkan perhatian terhadap perintah Allah setiap
waktu,  menempati  tempat  duduk  yang  kosong  baginya, tidak
melakukan ibadah yang mempunyai  keterkaitan,  tidak  memiliki
bentuk  luar,  benar-benar bebas, dia terus berputar mengikuti
arus persoalan yang dia hadapi,  beragama  dengan  agama  yang
memerintahkan  dirinya,  merasa  senang  dengan kebenaran, dan
merasa asing dengan kebathilan. Dia  bagaikan  air  hujan,  di
manapun  ia  diturunkan  selalu  membawa manfaat. Dia bagaikan
pohon kurma yang pohonnya  tidak  gugur,  dan  semua  pohonnya
bermanfaat   sampaipun   kepada   durinya.  Dia  marah  kepada
orang-orang yang menyimpang dari  jalan  Allah  dan  melanggar
batas  haram  yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia milik Allah,
dengan Allah dan bersama Allah. Dia  telah  bersahabat  dengan
Allah  dengan  khusyu',  dan  bersahabat dengan manusia dengan
penuh  keramahan.Bahkan,  ketika  dia   bersama   Allah,   dia
mengucilkan  diri  dari  makhluk-Nya, dan menyepikan diri dari
mereka. Ketika dia bersama makhluk-Nya, dia betul-betul berada
di  tengah-tengah  mereka.  Betapa  unik dan langkanya manusia
seperti ini! Betapa agung dan gembiranya  ketika  dia  bersama
Allah  SWT,  karena  dia merasa tenang, dan damai di sisi-Nya.
Hanya Allah 'Azza wa Jalla tempat  kita  memohon  pertolongan,
tempat kita bergantung, dan tempat kita kembali. 53

Catatan kaki:

43 Muttafaq 'Alaih dari Anas, (al-Lu'lu' wa al-Marjan, 1001)
   
44 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dari Miqdam (Shahih
   al-Jami' as-Shaghir. 5546).
   
45 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Sa'id dalam al-Buyu'
   (1209), dan di-hasan-kan olehnya dalam beberapa naskah;
   diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Ibn Umar dalam at-Tijarat
   (2139) tetapi di dalam isnad-nya ada seorang rawi yang dha'if.
   
46 Dalam al-Durar, al-Zarkasyi berkata: "Hadits ini tidak
   dikenal. Al-Mazi berkata: "Ini termasuk salah satu hadits
   gharib, yang tidak kita temukan di dalam salah satu kitab yang
   enam (al-Kutub al-Sittah). Dalam al-Mawdhu' at al-Kubra.
   al-Qari berkata: "Maknanya benar." Kemudian dia menguatkan
   pendapatnya dengan riwayat dari 'Aisyah r.a. "Sesungguhnya
   pahalamu tergantung kepada usahamu." (Lihat Kasyf al-Khafa',
   1: 155)
   
47 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan al-Awsath
   dari Ibn Mas'ud; diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan al-Bazzar
   dari Anas. Di dalam kedua sanad ini terdapat sesuatu yang
   tertinggal sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami (8:191);
   diriwayatkan oleh Thabrani dalam tiga bentuk dari Ibn Umar:
   "Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang
   paling bermanfaat untuk manusia..." Hadits ini dianggap hasan
   dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (176)
   
48 Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Darda, yang
   diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan, dan Ibn
   Hibban, sebagai yang tertulis dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir
   (6297)
   
49 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali bin Abu Thalib.
   
50 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim. dan para penyusun kitab
   sunan dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir,
   6234)
   
51 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah secara marfu':
   "Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, dan penghuni langit dan
   bumi, sampaipun semut yang berada di dalam lubangnya, dan ikan
   hiu yang ada di lautan memanjatkan shalawat kepada orang yang
   mengajarkan kebaikan kepada manusia." Dia berkata bahwa hadits
   ini adalah hasan shahih gharib (2686); dan diriwayatkan oleh
   Thabrani sebagaimana disebutkan dalam al-Majma', (1:124).
   
52 Merupakan bagian dari hadits Abu Darda, di atas, dengan
   sedikit perbedaan dalam redaksinya.
   
53 Madarij al-Salikin, 1:85-90; cetakan Al-sunnah
   al-Muhammadiyyah.
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

 

Indeks Islam | Indeks Qardhawi | Indeks Artikel | Tentang Pengarang

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team

 
Copyright 2002 Smile_akh Site
Last modified: February 26, 2002