Make your own free website on Tripod.com

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

KEMAKSIATAN BESAR YANG DILAKUKAN OLEH HATI MANUSIA
 
DOSA-DOSA besar itu tidak hanya terbatas kepada  amalan-amalan
lahiriah,  sebagaimana  anggapan  orang  banyak,  akan  tetapi
kemaksiatan yang lebih besar dosanya dan lebih berbahaya ialah
yang dilakukan oleh hati manusia.
 
Amalan yang dilakukan oleh hati manusia adalah lebih besar dan
lebih  utama  daripada  amalan  yang  dilakukan  oleh  anggota
tubuhnya.  Begitu  pula halnya kemaksiatan yang dilakukan oleh
hati  manusia  juga  lebih  besar  dosanya  dan  lebih   besar
bahayanya.
 
KEMAKSIATAN ADAM DAN KEMAKSIATAN IBLIS
 
Al-Qur'an telah menyebutkan kepada kita dua bentuk kemaksiatan
yang  mula-mula  terjadi  setelah terciptanya Adam dan setelah
dia ditempatkan di surga.
 
Pertama, kemaksiatan yang dilakukan  oleh  Adam  dan  istrinya
ketika  dia  memakan  buah dari pohon yang dilarang oleh Allah
SWT.  Itulah   jenis   kemaksiatan   yang   berkaitan   dengan
amalan-amalan  anggota tubuh yang lahiriah, yang didorong oleh
kelupaan   dan   kelemahan   kehendak   manusia;   sebagaimana
difirmankan oleh Allah SWT:
 
   "Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam
   dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami
   dapati padanya kemauan yang kuat." (Thaha: 115)
 
Iblis terlaknat tidak  menyia-nyiakan  kesempatan  itu,  yaitu
ketika  Adam  lupa  dan  lemah  kekuatannya. Iblis menampakkan
kepada Adam dan istrinya bahwa larangan  Allah  untuk  memakan
buah  pohon  itu sebagai sesuatu yang indah. Ia menipu mereka,
dan menjanjikan sesuatu kepada mereka sehingga mereka terjatuh
ke dalam janji-janji manis Iblis.
 
Akan  tetapi,  Adam  dan istrinya segera tersadarkan iman yang
bersemayam di dalam hati mereka, dan mereka  mengetahui  bahwa
mereka   telah   melanggar  larangan  Allah;  kemudian  mereka
bertobat kepada Tuhannya, dan Allah SWT menerima tobat mereka:
 
   "... dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
   Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya
   dan memberinya petunjuk." (Thaha: 121-122)
 
Keduanya berkata, "Ya tuhan kami, kami telah  menganiaya  diri
kami  sendiri,  dan  jika  Engkau  tidak  mengampuni  kami dan
memberi rahmat kepada kami,  niscaya  pastilah  kami  termasuk
orang-orang yang merugi." (al-A'raf: 23)
 
   "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya,
   maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha
   Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (al-Baqarah: 37)
 
Kedua,  kemaksiatan  yang  dilakukan  oleh  Iblis  ketika  dia
diperintahkan  oleh  Allah  --bersama  para  malaikat--  untuk
bersujud kepada  Adam  sebagai  penghormatan  kepadanya,  yang
diciptakan  oleh  Allah  SWT dengan kedua tangan-Nya, kemudian
Dia tiupkan ruh kepadanya.
 
   "Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama,
   kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama malaikat yang
   sujud itu. Allah berfirman: "Hai lblis, apa sebabnya
   kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud
   itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud
   kepada manusia yang engkau telah menciptakannya dari
   tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
   Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena
   sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu
   akan tetap menimpamu hingga hari kiamat kelak.""
   (al-Hijr: 30-35)
 
Itulah keengganan  dan  kesombongan  terhadap  perintah  Allah
sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah:
 
   "... maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
   takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang
   kafir." (al-Baqarah: 34)
 
Iblis membantah dan berkata kepada Tuhannya dengan sombongnya:
   
   "... Aku lebih baik daripada dirinya. engkau ciptakan
   saya dari api sedang dia engkau ciptakan dari tanah."
   (al-A'raf: 12)
 
Perbedaan antara kedua bentuk kemaksiatan tersebut ialah bahwa
kemaksiatan   Adam  adalah  kemaksiatan  yang  dilakukan  oleh
anggota badan  yang  tampak,  kemudian  dia  segera  bertobat.
Sedangkan kemaksiatan Iblis adalah kemaksiatan dalam hati yang
tidak tampak; yang sudah barang tentu akan diberi balasan yang
sangat buruk oleh Allah SWT. Kami berlindung kepada Allah dari
segala kemaksiatan tersebut.
 
Tidak heranlah bahwa setelah itu datang peringatan yang sangat
keras  terhadap  kita  dari  melakukan kemaksiatan dalam hati,
yang   digolongkan   kepada   dosa-dosa   besar.    Kebanyakan
kemaksiatan dalam hati itu adalah pendorong kepada kemaksiatan
besar yang dilakukan oleh  anggota  tubuh  kita  yang  tampak;
dalam  bentuk  meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah,
atau melakukan segala larangannya.
 
KESOMBONGAN
 
Sebagaimana yang kita ketahui dari kisah Iblis bersama  dengan
Adam,  kesombongan  dapat  mendorong kepada penolakan terhadap
perintah Allah SWT. Dia berfirman:
 
   "Berkata Iblis: 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada
   manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat
   kering (yang berasal dari) lumpur hitam yang diberi
   bentuk.'" (al-Hijr: 33)
   
   "... Aku lebih baik daripada dirinya..." (Shad: 76)
 
Atas dasar itulah kita  diperingatkan  untuk  tidak  melakukan
kesombongan  dan  melakukan  penghinaan  terhadap  orang lain;
sehingga Rasulullah saw bersabda,
 
   "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
   terdapat setitik kesombongan."27
 
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan,
 
   "Kemegahan adalah kain-Ku, kesombongan adalah
   selendang-Ku, dan barangsiapa yang merebutnya dari-Ku,
   maka Aku akan menyiksanya." 28
 
Dalam hadits yang lain disebutkan,
 
   "Seseorang akan dianggap telah melakukan keburukan
   apabila dia menghina saudaranya sesama Muslim." 29
   
   "Barangsiapa yang mengulurkan pakaiannya (memanjangkan
   pakaian yang dikenakannya secara berlebihan) maka Allah
   tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat kelak."30
 
Selain dari hadits-hadits tersebut, al-Qur'an  dalam  berbagai
ayatnya   mencela   orang   yang  melakukan  kesombongan,  dan
menjelaskan bahwa  kesombongan  mencegah  banyak  orang  untuk
beriman  kepada  Rasulullah  saw, sekaligus menjerumuskan diri
mereka ke neraka Jahanam:
 
   "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan
   kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini
   (kebenarannya)..." (an-Nahl: 14)
   
   "Maka masuklah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di
   dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang
   menyombongkan diri itu (an-Nahl: 29)
   
   "... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
   sombong." (an-Nahl: 23)
   
   "... Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang
   sombong dan sewenang-wenang." (Ghafir: 35)
   
   "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan
   dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
   tanda-tanda kekuasaan-Ku..." (al-A'raf: 146)
 
KEDENGKIAN DAN KEBENCIAN
 
Dalam kisah dua orang anak  nabi  Adam  yang  dikisahkan  oleh
al-Qur'an kepada kita, kita dapat menemukan kedengkian (hasad)
yang mendorong kepada salah seorang di antara  dua  bersaudara
itu untuk membunuh saudaranya yang berhati baik.
 
   "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua anak Adam (Habil
   dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya
   mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang
   dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang
   lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti
   membunuhmu." Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya
   menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa."
   "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk
   membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan
   tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku
   takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."
   "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan
   (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka
   kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian
   itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." Maka
   hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
   saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia
   seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian
   Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi
   untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia
   seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil:
   "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat
   seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan
   mayat saudaraku ini?." Karena itu jadilah dia seorang di
   antara orang-orang yang menyesal. (al-Ma'idah: 27-31)
 
Al-Qur'an memerintahkan kita  untuk  berlindung  kepada  Allah
dari kejahatan orang-orang yang dengki.
 
   "Dan dari kejahatan orang dengki apabila dia sedang
   dengki." (al-Falaq: 5)
 
Al-Qur'an mengatakan bahwa hasad adalah salah satu sifat orang
Yahudi.
 
   "Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad)
   lantaran, karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada
   manusia itu.?..." (an-Nisa': 54)
 
Allah menjadikan hasad sebagai salah satu penghalang  keimanan
terhadap ajaran Islam, dan merupakan salah satu sebab penipuan
terhadapnya:
 
   "Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka
   dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
   beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka
   sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran..."
   (al-Baqarah: 109)
 
Rasulullah  saw  mengatakan  bahwa  kedengkian  dan  kebencian
merupakan  salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan
sangat mempengaruhi agamanya. Beliau saw bersabda,
 
   "Penyakit umat terdahulu telah merambah kepada kamu
   semua yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu
   adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut,
   tetapi pencukur agama." 31
 
Dalam hadits yang lain disebutkan,
 
   "Tidak akan bertemu di dalam diri seorang hamba,
   keimanan dan kedengkian."32
 
Rasulullah saw bersabda,
 
   "Manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama dia
   tidak mempunyai rasa dengki"33
 
KEKIKIRAN YANG DIPERTURUTKAN
 
Di antara bentuk kemaksiatan hati yang besar  ialah  tiga  hal
yang   dianggap   merusak   kehidupan   manusia,   yang   kita
diperingatkan oleh hadits Nabi  saw  untuk  menjauhinya:  "Ada
tiga  hal  yang dianggap dapat membinasakan kehidupan manusia,
yaitu kekikiran (kebakhilan) yang dipatuhi,  hawa  nafsu  yang
diikuti, dan ketakjuban orang terhadap dirinya sendiri."34
 
Banyak sekali hadits yang mencela sifat kikir ini:
 
   "Kekikiran dan keimanan selamanya tidak akan bertemu
   dalam hati seorang hamba." 35
   
   "Keburukan yang ada di dalam diri seseorang ialah,
   kekikiran yang meresahkan dan sikap pengecut yang
   melucuti." 36
   
   "Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu
   adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah
   kekikiran, karena sesungguhnya kekikiran itu telah
   membinasakan orang-orang sebelum kamu; karena ia membuat
   mereka menumpahlan darah dan menghalalkan hal-hal yang
   diharamkan bagi mereka." 37
   
   "Jauhilah kekikiran, karena sesungguhnya umat sebelum
   kamu telah binasa karena kekikiran ini. Kekikiran itu
   menyuruh memutuskan silaturahmi, maka mereka
   memutuskannya; kekikiran itu menyuruh bakhil, maka
   mereka bakhil; kekikiran itu menyuruh berbuat keji, maka
   mereka berbuat keji." 38
 
Para ulama berkata, "Kikir adalah sifat bakhil  yang  disertai
dengan  tamak. Ia melebihi keengganan untuk memberikan sesuatu
karena  kebakhilan.  Bakhil  hanyalah   untuk   hal-hal   yang
berkaitan  dengan  pemberian harta benda saja, sedangkan kikir
berkaitan dengan pemberian harta benda dan juga kebaikan  atau
ketaatan.  Dan kekikiran yang meresahkan (al-syukhkh al-hali')
ialah yang membuat pelakunya selalu resah, dan sangat gelisah.
Artinya,  dia selalu gelisah dan khawatir bila ada haknya yang
diminta orang." Mereka  berkata,  "Kekikiran  selamanya  tidak
pernah  akan bertemu dengan pengetahuan terhadap Allah. Karena
sesungguhnya keengganan  untuk  menafkahkan  harta  benda  dan
memberikannya  kepada  orang  lain adalah karena takut miskin,
dan  ini  merupakan  kebodohan  terhadap  Allah,   dan   tidak
mempercayai  janji  dan  jaminannya.  Atas dasar itulah hadits
Nabi saw menafikan pertemuan antara kekikiran dan keimanan  di
dalam hati manusia. Masing-masing menolak yang lain.
 
HAWA NAFSU YANG DITURUTI
 
Di  antara  hal-hal  yang  dapat  membinasakan   (al-muhlikat)
manusia sebagaimana disebutkan oleh hadits Nabi saw ialah hawa
nafsu yang dituruti; yang juga  diperingatkan  oleh  al-Qur'an
dalam berbagai ayatnya. Allah SWT pernah berkata kepada Dawud:
 
   "Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu penguasa
   di maka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara
   manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa
   nafsu, karena ia akan menyesathan kamu dari jalan
   Allah..." (Shad: 26)
 
Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya yang terakhir:
 
   "... dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya
   telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti
   hawa nafsunya dan adalah hal itu melewati batas."
   (al-Kahfi: 28)
   
   "... dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang
   mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk
   dari Allah sedikitpun..." (al-Qashash: 50)
   
   "... Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati
   mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka."
   (Muhammad: 16)
 
Al-Qur'an menjelaskan bahwa  mengikuti  hawa  nafsu  itu  akan
membuat seseorang buta dan tuli, dan tersesat tidak mengetahui
apa-apa, hatinya tertutup, sehingga dia tidak  dapat  melihat,
mendengar,  dan  menyadari  apa yang sedang terjadi di sekitar
dirinya:
 
   "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
   nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
   berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran
   dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
   Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah
   Allah (membiarkannya sesat)..." (al-Jatsiyah: 23)
 
Oleh sebab itu, Ibn Abbas berkata, "Tuhan manusia yang  paling
jelek di bumi ialah hawa nafsu."
 
Al-Qur'an meletakkan pencegahan hawa nafsu sebagai kunci untuk
masuk  surga; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
 
   "Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya
   dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
   sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (an-Nazi'at:
   40-41)
 
TA'AJUB TERHADAP DIRI SENDIRI
 
Perkara ketiga yang  dapat  membinasakan  manusia  sebagaimana
disebutkan dalam hadits ialah berbangga terhadap diri sendiri.
Sesungguhnya orang yang  berbangga  terhadap  dirinya  sendiri
tidak  akan  dapat  melihat aib yang ada pada dirinya walaupun
aib itu sangat besar, tetapi dia dapat melihat  kelebihan  dan
kebaikan  dirinya sebagaimana mikroskop yang dapat memperbesar
hal-hal yang kecil dalam dirinya.
 
Al-Qur'an telah menyebutkan bagaimana kebanggaan kaum Muslimin
terhadap diri mereka pada waktu Perang Hunain yang menyebabkan
kekalahan, sehingga mereka menyadari keadaan itu  dan  kembali
kepada Tuhan mereka.
 
   "Sesungguhnya Allah menolong kamu (hai para Mukmin) di
   medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan
   Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena
   banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak
   memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas
   itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke
   belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah
   menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada
   orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala
   tentara yang kamu tiada melihatnya..." (at-Taubah:
   25-26)
 
Ali r.a. berkata, "Keburukan yang engkau lakukan adalah  lebih
baik  daripada kebaikan di sisi Allah yang membuatmu berbangga
diri."
 
Atha, mengutip makna ucapan Ali kemudian dia  mengungkapkannya
di   dalam   hikmahnya:  "Barangkali  Allah  membukakan  pintu
ketaatan  tetapi  tidak  membukakan  bagimu  pintu  penerimaan
amalan  itu;  barangkali  Dia  menakdirkan bagimu kemaksiatan,
tetapi  hal  itu  menjadi  sebab  sampainya  kamu   kepadaNya.
Kemaksiatan yang menyebabkan dirimu terhina dan tercerai-berai
adalah lebih baik daripada ketaatan  yang  menyebabkan  dirimu
berbangga dan menyombongkan diri."
 
RIYA' (MEMAMERKAN DIRI)39
 
Di antara kemaksiatan hati yang dianggap  besar  ialah  riya';
yang   menyebabkan   batalnya  dan  tidak  diterimanya  amalan
seseorang di sisi Allah SWT, walaupun pada lahirnya amalan itu
tampak   baik   dan  indah  menurut  Pandangan  manusia.Ketika
berbicara tentang orang-orang munafiq, Allah SWT
 
   "... Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan
   manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
   sedikit sekali." (an-Nisa': 142)
   
   "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu
   orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang
   berbuat riya', dan enggan (menolong dengan) barang
   berguna." (al-Ma'un: 4-7)
   
   "... maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang
   di atasnya ada tanah kemudian batu itu ditimpa hajan
   lebat, lalu menjadilah dia bersih..." (al-Baqarah: 264)
 
Sejumlah hadits menyebutkan bahwa riya' merupakan  salah  satu
bentut  kemusyrikan.  Amalan  yang  dilakukan  oleh orang yang
riya' tidak dituiukan untuk mencari keridhaan Allah SWT tetapi
dilakukan  untuk  mencari  popularitas,  pujian, dan sanjungan
dari masyarakat.
 
Oleh sebab itu, di dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:  "Aku
adalah  sekutu  yang  paling  kaya. Maka barangsiapa melakukan
amalan dengan menyekutukan diri-Ku dengan  yang  lainnya  maka
Aku  akan  meninggalkannya  dan sekutunya." Dalam riwayat yang
lain disebutkan: "Maka Aku akan berlepas diri darinya, dan Dia
akan bersama sekutunya."40
 
Ada sebuah hadits yang sangat terkenal, yang diriwayatkan oleh
Muslim dari Abu Hurairah r.a. mengenai tiga  orang  yang  pada
hari  kiamat  kelak,  digiring  ke  api neraka; pertama adalah
orang yang berperang sampai dia menjadi syahid;  kedua  adalah
orang  yang  belajar  ilmu pengetahuan dan mengajarkannya, dan
membaca  al-Qur'an;  ketiga  adalah  orang  yang   menafkahkan
hartanya  pada kebaikan. Akan tetapi Allah SWT Maha Mengetahui
niat-niat  dan  rahasia  mereka.  Allah  menyatakan  kedustaan
mereka  dan  menunjukkan bukti-buktinya serta berfirman kepada
setiap  orang   di   antara   mereka,   "Sesungguhnya   engkau
melaksanakan  ini  dan itu adalah agar supaya orang mengatakan
bahwa dirimu begini dan begitu."
 
Sesungguhnya  kepalsuan  dan  penipuan  yang  dilakukan   oleh
manusia  seperti  itu  terhadap sesama manusia merupakan sifat
yang sangat buruk. Lalu bagaimana halnya dengan kepalsuan yang
dilakukan   oleh   makhluk   kepada  Khaliq-nya.  Sesungguhnya
perbuatan seperti  itu  lebih  keji  dan  lebih  buruk  Itulah
perbuatan  yang  dilakukan  oleh  orang-orang  yang  melakukan
riya',  yang  berbuat  untuk  memperoleh  pujian  orang.   Dia
melakukan  semuanya  untuk  memperoleh  kepuasan  orang,  yang
bohong dan semu. Maka tidak diragukan  lagi  bahwa  Allah  SWT
akan  murka  kepadanya  dan  akan mengungkapkan segala rahasia
yang tersimpan di dalam hatinya kelak  pada  hari  kiamat  dan
akan  memasukkannya  ke  neraka.  Tiada daya dan upaya kecuali
dengan Allah SWT.
 
CINTA DUNIA
 
Di antara kemaksiatan hati lainnya yang dianggap  besar  ialah
cinta  dunia  dan  lebih mengutamakannya daripada akhirat. Hal
ini merupakan sebab setiap kesalahan yang dilakukannya. Bahaya
yang  ditimbulkannya  bukan terletak pada pemilikan dunia itu,
tetapi keinginan dan ketamakan atas dunia dengan segala  macam
perhiasannya.  Jika  ada  kesempatan  untuk meraih kepentingan
dunia  dan  akhirat,  maka  orang   itu   lebih   mengutamakan
kepentingan  yang pertama daripada kepentingan yang kedua. Dan
inilah yang menyebabkan kehancurannya di dunia dan di  akhirat
kelak. Allah SWT berfirman:
 
   "Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih
   mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya
   nerakalah tempat tinggalnya." (an-Nazi'at: 37-39)
   
   "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
   perhiasannya, niscaya Kami beriman kepada mereka balasan
   pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di
   dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang
   tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
   lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan
   di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."
   (Hud: 15-16)
   
   "Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang
   berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini
   kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh
   pengetahuan mereka..." (an-Najm: 29-30)
   
   "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu
   adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang
   apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih
   kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya." (al-Qashas:
   60)
 
Berkaitan  dengan  urusan  dunia,  ada  sebuah   hadits   yang
diriwayatkan  oleh  Ahmad  dan Abu Dawud dari Tsauban "Rahasia
wahan yang melanda umat ini walaupun mereka  jumlahnya  sangat
banyak: 'cinta dunia dan takut mati.'"
 
CINTA HARTA, KEHORMATAN DAN KEDUDUKAN
 
Cinta  dunia  itu  berbentuk  cinta  harta   kekayaan,   cinta
kehormatan  dan  kedudukan,  dengan  disertai rasa tamak untuk
memperoleh dua jenis kehidupan dunia itu, sehingga orang  yang
hendak mencarinya mengorbankan nilai-nilai dan prinsip-prinsip
kehidupannya asal dapat mencapai apa  yang  diidam-idamkannya,
sehingga  agama  dan imannya hilang dari dirinya. Dalam sebuah
hadits disebutkan:
 
   "Dua ekor serigala yang lapar, kemudian dilepaskan di
   tengah kawanan kambing, kerusakan yang ditimbulkannya
   tidak separah kerusakan yang menimpa keagamaan seseorang
   akibat ketamakannya dalam mencari kekayaan dan
   kehormatan." 41
 
Ketamakan memang diperlukan oleh manusia, tetapi  dalam  kadar
yang  wajar.  Kalau  ketamakan  sudah tidak terkendalikan, dan
anginnya berhembus, kemudian hawa nafsunya  juga  sudah  tidak
terkendali,  maka  ia  akan menimbulkan kerusakan; sebagaimana
yang dilakukan  oleh  dua  ekor  serigala  yang  sedang  lapar
kemudian  berjumpa  dengan  seekor  kambing  yang  hilang dari
tuannya. Kerusakan itu disebabkan oleh adanya rasa tamak  yang
menyebabkan  kesombongan dan kerusakan yang sangat dicela oleh
agama itu. Allah SWT berfirman:
 
   "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang
   tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan.
   Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
   bertakwa." (al-Qashas: 83)
 
Di antara tanda-tanda cinta dunia  adalah  ketamakan  terhadap
kedudukan,   kerakusan   terhadap   kepemimpinan,  dan  senang
menampakkan diri, padahal ia dapat menghancurkan kehidupan.
 
Nabi saw sangat mengkhawatirkan keadaan ini pada umatnya,  dan
bersabda,
 
   "Sesungguhnya kamu kelak akan tamak kepada kepemimpinan,
   padahal ia akan menyebabkan penyesalan dan kerugian
   kelak pada hari kiamat. Maka alangkah bahagianya orang
   yang menyusui dan betapa ruginya orang yang disapih." 42
 
Nabi saw menyamakan  antara  manfaat  yang  diperoleh  melalui
kepemimpinan  dan  orang yang menyusui, serta menyamakan orang
yang disapih dengan pemimpin yang sudah lepas dari jabatannya,
karena mati atau dicopot. Kepemimpinan itu memang mendatangkan
manfaat dan kenikmatan tetapi  cepat  sekali  menghilang,  dan
akan  berakhir  dengan  kerugian.  Oleh karena itu, orang yang
berakal tidak akan tamak  terhadap  kenikmatan  yang  sifatnya
sementara, yang banyak menimbulkan kerugian.
 
Di  antara  kemaksiatan  hati  yang  dianggap besar ialah rasa
putus asa dari rahmat Allah SWT.
 
   "... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
   Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah,
   melainkan kaum yang kafir." (Yusuf 87)
   
   "Ibrahim berkata, "Tidak ada orang yang berputus asa
   dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat."
   (al-Hijr: 56)
 
Termasuk dalam kemaksiatan hati yang besar juga  ialah  merasa
aman dan azab Allah SWT. Allah SWT berfirman:
 
   "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang
   tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab
   Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 99)
 
Kemaksiatan besar lainnya ialah merasa senang apabila kekejian
menyebar di dalam kaum Mukmin. Allah SWT berfirman:
 
   "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita)
   perbuatan amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang
   yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan
   di akhirat..." (an-Nur: 19)
 
Itulah sebagian kemaksiatan besar  yang  dilakukan  oleh  hati
manusia atau hal-hal yang dapat membinasakan kehidupannya, dan
hanya sedikit sekali  orang  yang  peduli  terhadapnya  karena
mereka  lebih  memperhatikan  kepada  amalan-amalan  lahiriah,
berupa ketaatan yang dianjurkan dan kemaksiatan yang dilarang.
Kemaksiatan  hati  itulah  yang  oleh  Imam  Ghazali dinamakan
dengan hal-hal yang merusak (al-muhlikat).  Dia  mengkhususkan
pembahasan mengenai hal ini tiga perempat bukunya, Ihya' 'Ulum
al-Din. Maka betapa indahnya bila pemeluk agama ini  dan  para
dainya  memberikan  perhatian  kepada apa yang diutamakan oleh
agama  ini,  sehingga  mereka  mau  mengerahkan  pikiran   dan
perasaannya kepada pendidikan dan pengajaran.
 
HAL-HAL KECIL YANG DIHARAMKAN
 
Setelah berbicara tentang dosa-dosa  besar  yang  sama  sekali
diharamkan   oleh  agama  ini,  maka  ada  baiknya  kita  juga
berbicara tentang dosa-dosa kecil,  yang  oleh  agama  disebut
dengan istilah lamam (remeh) dan muhaqqarat (hina)
 
Hampir  tidak  ada  orang yang luput dari dosa kecil ini. Oleh
karena  itu,  dosa-dosa  kecil  ini  sangat   berbeda   dengan
dosa-dosa  besar.  Dosa-dosa  kecil  ini dapat dihapuskan oleh
shalat lima waktu, shalat  Jumat,  puasa  Ramadhan  dan  qiyam
lail, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
 
   "Shalat lima waktu, shalat Jumat kepada shalat Jumat
   berikutnya, puasa Ramadhan hingga puasa Ramadhan
   berikutnya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, apabila
   seseorang menjauhkan diri dari dosa-dosa yang besar." 43
 
Dalam as-Shahihain, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
 
   "Apakah pendapatmu apabila ada sebuah sungai berada di
   depan pintu rumah salah seorang di antara kamu, kemudian
   dia mandi setiap dan sebanyak lima kali; maka apakah
   masih ada lagi sesuatu kotoran di badannya? Begitulah
   perumpamaan shalat lima waktu itu, dimana Allah SWT
   menghapuskan kesalahan-kesalahan kecil hamba-Nya." 44
 
Dalam kitab yang sama disebutkan,
 
   "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan
   keyakinan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang
   terdahulu."
   
   "Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh
   keimanan dan penuh perhitungan, maka akan diampuni
   dosa-dosanya terdahulu."45
 
Bahkan  al-Qur'an  menyebutkan  bahwa  hanya  dengan   sekadar
menjauhi  dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecil akan diampuni.
Allah SWT berfirman: "Jika kamu menjauhi  dosa-dosa  besar  di
antara  dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, maka Kami
hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan  Kami
masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (an-Nisa': 31)
 
Adapun  dosa-dosa  besar  tidak  akan  diampuni kecuali dengan
melakukan tobat yang benar.
 
Sedangkan dosa-dosa kecil, hampir dilakukan oleh setiap  orang
awam.  Oleh  sebab  itu,  ketika Allah memberikan sifat kepada
orang yang suka berbuat baik di  antara  para  hamba-Nya,  Dia
tidak  memberikan sifat kepada mereka kecuali dengan "menjauhi
dosa-dosa besar dan perbuatan yang keji."
 
   "... dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih
   kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada
   Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Dan (bagi) orang-orang
   yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan
   keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf."
   (as-Syura: 36-37)
   
   "Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit
   dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan
   kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang
   telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada
   orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih
   baik (surga). (Yaitu) orang-orang yang menjauhi
   dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
   kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhya Tuhanmu Maha Luas
   ampunan-Nya..." (an-Najm: 31-32)
 
Itulah sifat orang-orang yang  suka  melakukan  kebaikan,  dan
memiliki  sifat  yang  baik.  Mereka menjauhkan diri dari dosa
besar, dan kekejian, kecuali dosa-dosa kecil  (al-lamam).  Ada
beberapa  riwayat  dari  para ulama terdahulu berkaitan dengan
penafsiran kata "al-lamam" dalam ayat tersebut. Ada di  antara
mereka  berkata,  "Artinya,  mereka  tahu  bahwa perbuatan itu
merupakan suatu dosa, kemudian mereka tidak mengulanginya lagi
walaupun itu dosa besar."
 
Abu  Salih  berkata,  "Aku pernah ditanya tentang firman Allah
'al-laman' kemudian aku berkata, 'Yaitu  dosa  yang  diketahui
oleh   seseorang   kemudian  dia  tidak  mengulangi  dosa  itu
kembali.' Kemudian aku  menyebutkan  jawaban  itu  kepada  Ibn
Abbas.  Maka  dia  berkata, 'Sungguh engkau telah dibantu oleb
malaikat yang mulia dalam menafsirkan kata itu.'"
 
Jumhur ulama berkata bahwa sesungguhnya al-lamam adalah berada
di  bawah  tingkatan  dosa-dosa  besar. Begitulah riwayat yang
paling shahih diantara riwayat yang berasal  dari  Ibn  Abbas,
sebagaimana  disebutkan  dalam  Shahih  al-Bukhari: "Aku tidak
melihat hal yang lebih serupa dengan al-lamam kecuali apa yang
dikatakan oleh Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw:
 
   "Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian-bagian zina
   terhadap anak Adam. Dia pasti melakukan hal itu. Mata
   berzina dengan melakukan penglihatan, lidah berzina
   dengan melakukan percakapan, hawa nafsu melakukan zina
   dengan berkhayal dan mengumbar syahwat, kemudian farji
   membenarkan atau mendustakannya.'" (Diriwayatkan oleh
   Muslim). Dalam riwayat itu juga disebutkan: "Kedua mata
   melakukan zina dengan pandangan, kedua telinga melakukan
   zina dengan pendengaran, lidah melakukan zina dengan
   percakapan, dan tangan melakukan zina dengan memukul,
   serta kaki melakukan zina dengan melangkah."
 
Imam Ibn al-Qayyim berkata, "Yang benar adalah pendapat Jumhur
ulama  yang  mengatakan  bahwa al-lamam ialah dosa-dosa kecil,
seperti melihat, mengedipkan  mata,  mencium,  dan  lain-lain.
Pendapat  ini  berasal  dan  Jumhur  sahabat  dan  orang-orang
setelah mereka; seperti Abu Hurairah  r.a.,  Ibn  Mas'ud,  Ibn
Abbas,  Masruq,  dan  al-Sya'bi.  Pendapat ini tidak menafikan
pendapat Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas  dalam  riwayat  yang
lainnya:  'Yakni  seseorang mengetahui dosa besar itu kemudian
dia tidak mengulanginya lagi.'  Karena  sesungguhnya  al-lamam
sama-sama  mencakup  keduanya. Ini bermakna bahwa Abu Hurairah
r.a.  dan  Ibn  Abbas  bermaksud  bahwa  ada  seseorang   yang
melakukan   dosa   besar   satu   kali,   kemudian  dia  tidak
mengulanginya lagi,  dan  hanya  sekali  itu  dilakukan  dalam
hidupnya,  dan  ini  dinamakan  al-lamam. Kedua orang ini juga
berpandangan bahwa al-lamam juga dapat berarti dosa-dosa kecil
yang   lama  kelamaan  menjadi  besar  karena  sering  diulang
berkali-kali. Dan itulah  yang  dipahami  dari  pendapat  para
sahabat r.a., dari kedalaman ilmu mereka. Tidak diragukan lagi
bahwasanya Allah SWT  membedakan  toleransi  kepada  hamba-Nya
satu  atau  dua kali, atau tiga kali. Yang dikhawatirkan ialah
kesalahan kecil yang  seringkali  dilakukan  sehingga  menjadi
kebiasaan.  Dan  bila  sering  dilakukan  maka  akan bertumpuk
menjadi dosa yang banyak." 46
 
Walaupun syariah agama ini memberikan toleransi dan menganggap
enteng  dosa-dosa  kecil  dan  ringan,  tetapi  dia memberikan
peringatan   agar   tidak   mengentengkannya,   dengan   terus
melakukannya. Karena semua perkara yang kecil apabila ditambah
dengan perkara  yang  kecil  secara  terus-menerus  maka  akan
menjadi besar. Sesungguhnya dosa-dosa yang kecil dapat menjadi
dosa besar, dan dosa  besar  mengakibatkan  kepada  kekufuran.
Kebanyakan api yang besar asalnya adalah api yang kecil.
 
Sehubungan  dengan  hal  ini  Sahl bin Sa,ad meriwayatkan dari
Nabi saw,
 
   "Jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya
   perumpamaan dosa-dosa kecil adalah sama dengan
   perumpamaan suatu kaum yang turun ke sebuah lembah.
   Kemudian ada seorang di antara mereka membawa satu
   batang kayu, lalu ada lagi orang lain yang membawa
   sebatang kayu lagi, sampai batang kayu itu dapat
   dipergunakan untuk memasak roti mereka. Sesungguhnya
   dosa-dosa kecil itu bila dilakukan secara terus-menerus,
   dapat membinasakan orang yang melakukannya."47
 
Ibn Mas'ud  meriwayatkan  dengan  lafal:  "Jauhilah  dosa-dosa
kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil yang berkumpul pada
diri seseorang akan dapat menghancurkannya." Dan  sesungguhnya
Rasulullah  saw  mengambil  satu  perumpamaan  dosa  kecil ini
bagaikan suatu kaum yang tinggal di suatu lembah, lalu  datang
seorang  pembuat roti, kemudian dia menyuruh orang untuk pergi
mencari  batang  kayu;  kemudian  orang-orang  datang  membawa
batang  kayu  itu  sampai jumlahnya sangat banyak. Lalu mereka
menyalakan api dan memasak  apa  yang  mereka  berikan  kepada
tukang roti itu."48
 
Ringkasan    perumpamaan    itu    adalah   sebagai   berikut:
"Sesungguhnya  ranting-ranting  kayu  yang  kecil  itu  ketika
dikumpulkan   akan   dapat   membuat   api   yang   besar  dan
menyala-nyala. Begitu pula dosa-dosa kecil dan remeh."
 
Diriwayatkan  dari  Ibn  Mas'ud:  "Orang  Mukmin  itu  melihat
dosanya  bagaikan  gunung sehingga dia takut tertimpa olehnya;
sedangkan  orang  munafiq  melihat  dosanya   bagaikan   lalat
sehingga  dia selalu terjerumus ke dalam dosa. Dengan dosa itu
dia begini dan begitu." 49 (Sambil memberikan  isyarat  dengan
tangannya yang terombang-ambing).
 
Imam Ghazali mengatakan dalam bab at-Taubah, di dalam bukunya,
al-Ihya',  tentang  adanya  sejumlah  perkara   besar   karena
perkara-perkara  yang  kecil,  dan  perkara yang besar menjadi
lebih besar. Antara  lain:  Menganggap  kecil  dosa-dosa  yang
kecil  dan  meremehkan  kemaksiatan,  sehingga  sebagian orang
salaf berkata,  "Sesungguhnya  dosa  yang  dikhawatirkan  oleh
pelakunya  untuk  tidak diampuni ialah yang dikatakan olehnya:
'Alangkah  baiknya  bila  seluruh  dosa  yang   saya   lakukan
dikhawatirkan  seperti  ini.'  Dosa lainnya ialah yang sengaja
ditampakkan  oleh  pelakunya.  Dalam  sebuah   hadits   shahih
dikatakan,  'Seluruh  umatku  akan diampuni kecuali orang yang
sengaja melakukan dosa-dosa secara demonstratif.'
 
Ibn al-Qayyim berkata, "Di  situlah  kita  mesti  berhati-hati
dalam  melangkah.  Karena  sesungguhnya dosa besar itu apabila
disertai  dengan  malu,  rasa  takut,  dan  anggapan  terhadap
sesuatu  yang besar padahal sebetulnya sesuatu itu kecil, maka
dia tidak akan  melakukan  perbuatan  dosa.  Sebaliknya,  dosa
kecil  apabila  tidak disertai dengan rasa malu, tidak peduli,
tidak takut, dan meremehkannya, maka  dia  akan  menjadi  dosa
besar.  Dan bahkan akan menduduki peringkat yang paling tinggi
di antara dosa-dosa tersebut."50
 
Begitu  pula  halnya  dengan  satu  kemaksiatan  akan  berbeda
dosanya   sesuai   dengan   tingkat  perbedaan  individu  yang
melakukannya dan keadaannya. Zina yang dilakukan oleh  seorang
bujang  tidak  sama dengan zina yang dilakukan oleh orang yang
sudah menikah. Dosa zina yang dilakukan oleh pemuda yang belum
menikah  dengan  orang  tua  yang  sudah  menikah  tidak dapat
disamakan  begitu  pula  zina  yang  dilakukan  dengan   istri
tetangga  atau  istri  orang yang sedang pergi berperang, atau
dengan mahramnya, atau zina pada siang Ramadhan. Dosa zina itu
tidak  dapat  disamakan.  Setiap  keadaan  akan dinilai secara
tersendiri oleh Allah SWT.
 
Allamah Ibn Rajab pernah mengatakan sesuatu yang sangat  baik,
dan ada baiknya bila saya kutipkan di sini.
 
Perkara  yang  diharamkan telah disebutkan dengan sangat jelas
di dalam al-Qur'an; seperti firman Allah SWT:
 
   "Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas
   kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan
   sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua
   orangtua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu
   karena takut kemiskinan...'" (al-An'am: 151)
 
Hingga tiga ayat berikutnya.
 
   "Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang
   keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan
   perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang
   benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan
   sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan
   (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang
   tidak kamu ketahui.'" (al-A'raf: 33)
 
Selain itu,  al-Qur'an  dalam  beberapa  ayatnya  mengharamkan
secara   khusus,   beberapa  jenis  makanan  sebagaimana  yang
disebutkan di dalam beberapa tempat.  Misalnya,  firman  Allah
SWT:
 
   "Katakanlah: 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang
   diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang
   yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu
   bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi
   --karena sesungguhnya semua itu kotor-- atau binatang
   yang disembelih atas nama selain Allah...'" (al-'An'am:
   145)
   
   "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
   darah daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih)
   di sebut nama selain Allah..." (al-Baqarah: 173)
   
   "... dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain
   nama Allah ..." (an-Nahl: 115)
   
   "Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi,
   daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah,
   yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk,
   dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat
   kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang
   disembelih untuk berhala. Dan diharamkan juga mengundi
   nasib dengan anak panah..." (al-Ma'idah: 3)
 
Al-Qur'an juga menyebutkan perkara-perkara yang ada  kaitannya
dengan nikah:
 
   "Diharamkan atas kamu mengawini ibumu, anak-anakmu yang
   perempuan ... (an-Nisa': 23)
 
Ia juga menyebutkan  hasil  kerja  yang  diharamkan,  misalnya
dalam firman-Nya:
 
   "... padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
   mengharamkan riba..." (al-Baqarah: 270
 
Sedangkan sunnah Nabi saw yang  menyebutkan  beberapa  perkara
yang diharamkan ialah:
 
   "Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamar,
   bangkai, babi, berhala." 51
   
   "Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu, maka
   Dia juga mengharamkan harganya." 52
   
   "Setiap yang memabukkan adalah haram." 53
   
   "Sesungguhnya darah, harta kekayaan, dan kehormatan kamu
   adalah diharamkan atas kamu." 54
 
Perkara yang telah dijelaskan di dalam  al-Qur'an  dan  sunnah
sebagai sesuatu yang haram, maka ia adalah tetap haram.
 
Kadangkala  pengharaman  itu diungkapkan melalui larangan yang
disertai dengan ancaman yang keras, seperti firman Allah SWT:
 
   "... sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban
   untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah
   perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah
   perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan
   keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak
   menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu
   lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan
   menghalangi kamu dari mengingat, Allah dan sembahyang;
   maka berhentilah kamu dan mengerjakan pekerjaan itu."
   (al-Ma'idah: 90-91)
 
Adapun yang  berkaitan  dengan  ungkapan  yang  hanya  sekadar
melarang, maka orang-orang berselisih pendapat, apakah hal itu
menunjukkan pengharaman ataukah tidak? Ada satu  riwayat  dari
Ibn  Umar  yang  menyebutkan  bahwa  hal itu tidak menunjukkan
pengharaman. Ibn al-Mubarak berkata bahwa dia diberitahu  oleh
Salam  bin  Abi  Muthi',  dari  Ibn Abu Dakhilah, dari ayahnya
berkata, "Dahulu aku  pernah  bersama  dengan  Ibn  Umar  yang
berkata,  'Rasulullah  saw  melarang mencampurkan antara kurma
basah dan kurma kering.' Kemudian seorang lelaki di belakangku
berkata, 'Apa yang dia katakan?' Aku menjawab: 'Rasulullah saw
telah mengharamkan pencampuran antara kurma  basah  dan  kurma
kering.'  Maka  Abdullah  ibn Umar berkata, 'Bohong.' Lalu aku
berkata, 'Tidakkah engkau telah  mengatakan,  'Rasulullah  saw
melarangnya',  maka  apakah  itu tidak menunjukkan keharaman?'
Ibn Umar menjawab: 'Engkaukah yang menjadi saksi  untuk  itu?'
Salam  kemudian  berkata,  'Seakan-akan  dia  berkata bahwa di
antara larangan Nabi saw adalah termasuk adab.'"55
 
Telah kami sebutkan di muka tentang para ulama wara',  seperti
Ahmad  dan  Malik  yang  sangat berhati-hati dalam menggunakan
kata "haram" untuk perkara yang belum  diyakini  keharamannya,
karena   mungkin   perkara   itu  adalah  syubhat  atau  masih
diperselisihkan.
 
Al-Nakha'i  berkata,  "Dahulu  mereka  tidak   suka   terhadap
beberapa  hal  yang  tidak  mereka haramkan." Ibn Aun berkata,
"Makhul berkata kepadaku, 'Bagaimanakah pendapat kamu  tentang
buah  yang dilemparkan ke tengah-tengah kaum Muslimin kemudian
mereka mengambilnya?'  Aku  menjawab  'Sesungguhnya  buah  itu
menurut   pendapat  kami  adalah  makruh.'  Dia  berkata,  'Ia
termasuk hal yang haram.' Aku berkata, 'Sesungguhnya buah  itu
menurut  pendapat  kami  adalah  makruh."  Dia  berkata,  'Ia
termasuk hal yang haram.'" Ibn  Aun  berkata,  "Kami  kemudian
menjauhinya karena ucapan Makhul itu."
 
Ja'far bin Muhammad berkata, "Saya mendengarkan seorang lelaki
bertanya kepada  Qasim  bin  Muhammad:  'Apakah  nyanyian  itu
haram?' Qasim kemudian diam, lalu lelaki itu kembali bertanya,
dan Qasim tetap diam, ia kembali bertanya, lalu Qasim  berkata
kepadanya:  'Sesungguhnya haram itu adalah apa yang diharamkan
di dalam al-Qur'an dan Sunnah. Apakah engkau  melihat  apabila
musik   (nyanyian)   itu   dikaitkan   dengan   kebenaran  dan
kebathilan, maka ke bagian manakah nyanyian itu lebih  dekat?'
Lelaki  itu  kemudian  menjawab:  'Kepada  kebathilan.'  Qasim
kemudian berkata,  'Begitulah  seharusnya  kamu,  dan  berilah
fatwa kepada dirimu sendiri.'"
 
Abdullah  bin  Imam  Ahmad  berkata,  "Aku  mendengar  bapakku
berkata, 'Adapun berkaitan dengan hal-hal yang  dilarang  oleh
Rasulullah  saw  maka  ada  beberapa  perkara yang diharamkan.
Seperti sabdanya, Seorang wanita dilarang untuk dinikahi  atas
saudara  perempuan  bapaknya  atau saudara perempuan ibunya.56
Untuk hal  seperti  ini  adalah  haram.  Rasulullah  saw  juga
melarang  penggunaan  kulit binatang buas,57 maka larangan ini
menunjukkan kepada sesuatu yang  haram.  Tetapi  ada  larangan
dari  Nabi  saw  yang  menunjukkan bahwa larangan itu hanyalah
sebagai adab.58
 
Catatan kaki:
 
27 Muttafaq 'Alaih dari Abdullah bin Amr, al-Lu'lu' wal-Marjan
   (57). 28 Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman, dari Ibn
   Mas'ud (147).
   
29 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564).
   
30 Muttafaq 'Alaih, dengan lafal dari Bukhari, al-Lu'lu'
   wal-Marjan (1439).
   
31 Diriwayatkan oleh Bazzar dari Zubair dengan isnad yang
   baik; sebagaimana dikatakan oleh Mundziri (al-Muntaqa, 1615);
   dan al-Haitsami (al-Majma', 8: 3); sebagaimana diriwayatkan
   oleh Tirmidzi (2512), yang berkata "Ini hadits yang banyak
   sekali riwayatnya."
   
32 Diriwayatkan oleh Nasai, 6:13; Ibn Hibban dalam Shahih-nya
   dari Abu Hurairah r.a. (al-Mawarid, 1597), yang dinisbatian
   kepada Shahih al-Jami' as-Shaghir kepada Ahmad dan Hakim
   (7620).
   
33 Diriwayatkan oleh Thabrani dengan rawi-rawi yang tsiqah,
   sebagaimana dikatakan oleh al-Mundziri (al-Muntaqa, 174) dan
   al-Haitsami (al-Majma', 8:78).
   
34 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath dari Anas dan
   Ibn Umar, yang menganggapnya sebagai hadits hasan dalam Shahih
   al-Jami' as-Shaghir, 3030 dan 3045.
   
35 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah r.a. 2:342;
   Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (270); Nasai, 6:13; Hakim,
   2:72; yang di-shahih-kan dan disepakati oleh al-Dzahabi; Ibn
   Hibban(3251); Syaikh Syu'aib berkata bahwa hadits ini termasuk
   shahih li ghairih,.
   
36 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.,
   9:17. Hafizh al-Iraqi berkata dalam Takhrij al-Ihya': "Isnad
   hadits ini baik." dan di-shahih-kan oleh Syaikh Syu'aib dalam
   Takhrij Ibn Hibban; dan diriwayatkan oleh al-Albani dalam
   Shahih al-Jami' as-Shaghir (3709)
   
37 Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir.
   
38 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibn Umar (1698); dan
   al-Hakim yang menshahihkannya sesuai dengan syarat yang
   ditetapkan oleh Muslim, 1:11, dan al-Dzahabi tidak memberikan
   komentar apa-apa.
   
39 Riya' ialah melakukan sesuatu amalan tidak untuk mencari
   keridhaan Allah tetapi untuk mencari popularitas atau pujian
   dari masyarakat
   
40 Riwayat yang pertama diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab
   az-Zuhd; sedangkan riwayat lainnya diriwayatkan oleh Ibn Majah
   (4202). Al-Mundziri berkata. "Para rawinya tsiqah."
   (Al-Muntaqa, 21); al-Bushiri dalam az-Zawa'id berkata,
   "Isnad-nya shahih, dan rijal-nya tsiqah."
   
41 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ka'ab bin Malik, 3: 456, 460;
   dan diriwayatkan oleh Tirmidzi az-Zuhd. Dia berkata bahwa
   hadits ini hasan shahih (2377); al-Manawi menukilnya dalam
   al-Faidh dari al-Mundziri yang mengatakan bahwa Isnad hadits
   ini hasan (5:446)
   
42 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasa'i dari Abu Hurairah r.a.
   (Shahih al-Jami,as-Shaghir, 2304)
   
43 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.
   
44 Muttafaq Allaih dari Abu Hurairah r.a., al-Lu'lu'
   wal-Marjan (435); al-Muntaqa min at-Targhib wat-Tarhib, 514.
   
45 Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah r.a. al-Lu'lu' wal-Marjan
   (435); al-Muntaqa min at-Targhib 514. Yang dimaksudkan dengan
   dosa-dosa di sini ialah dosa-dosa kecil dan bukan dosa-dosa
   besar.
   
46 Lihat Ibn al-Qayyim. Madarij ai-Salikin, 1:316-318, cet.
   Al-Sunnah al-Muhammadiyyah, yang ditahqiq oleh Muhammad Hamid
   al-Faqi.
   
47 al-Haitsami mengatakan dalam al-Majma', 10:190: "Hadits ini
   diriwayatkan oleh Ahmad dengan rijal yang shahih; dan
   diriwayatkan oleh Thabrani sebanyak tiga kali melalui dua
   rangkaian sanad, dengan rijal hadits yang shahih selain Abd
   al-Wahhab bin al-Hakam. Dia adalah seorang tsiqat. Dia
   menyebutkannya dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (2686),
   kemudian dia menisbatkannya kepada Baihaqi dalam al-Syu'ab wa
   al-Dhiya'"
   
48 al-Haitsami mengatakan dalam al-Majma', 10:189: "Hadits ini
   diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dengan rijal yang shahih
   selain Imrah al-Qattan, tetapi dia dianggap tsiqat. Al-Manawi
   mengutip dari al-Hafiz al-Iraqi bahwa isnad hadits ini
   shahih." Al-Alai berkata, "Hadits ini baik, sesuai dengan
   syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim." Ibn Hajar
   berkata, "Sanad hadits ini hasan." (Al-Faidh, 3:128)
 
49 Diriwayatkan oleh Bukhari
   
50 Madarij al-Salikin, 1: 328
   
51 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir, 3:324,326,340; dan
   Bukhari (2236), dan (42961; Muslim (1581); Abu Dawud (3486);
   Tirmidzi (1298); Nasai, 7:177,309; dan Ibn Majah (2167)
   
52 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3488) dari hadits Ibn Abbas
   dengan isnad yang shahih.
   
53 Diriwayatkan oleh Muslim (2003); Abu Dawud (3679); Tirmidzi
   (1864); dan Nasai, 8:297 dari hadits Ibn Umar.
   
54 Sudah pernah disebutkan periwayatan haditsnya dari Abu
   Bakrah.
   
55 Ibn Abu Dakhilah dan ayahnya adalah dua orang yang tidak
   diketahui.
   
56 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a. (1109),
   (1110); Muslim (1408); Abu Dawud (2065) dan (2066); Nasai,
   7:97; Ibn Majah (1929).
   
57 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4132); Tirmidzi (1770) dan
   (1771); Nasa'i, 7:167; Hakim, 1:144 dari Sa'id bin Abu Urubah;
   kemudian diriwayatkan dari Syu'bah, dari Yazid al-Rusyk, dari
   Abu al-Malih, dan Nabi saw dengan cara mursal. Dia berkata,
   "Ini lebih shahih." Lihatlah al-Baghawi, Syarh as-Sunnah.
   2:99-100.
   
58 Ibn Rajab, Jami, al-'Ulum wa al-Hukm, yang di-tahqiq oleh
   Syu'aib al-Arnauth, yang takhrij haditsnya ada yang telah kita
   pergunakan, 2:157-160, cet. ar-Risalah.
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M

 

Indeks Islam | Indeks Qardhawi | Indeks Artikel | Tentang Pengarang
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team