Make your own free website on Tripod.com

[kembali ke artikel]

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

 

PRIORITAS PERKARA POKOK ATAS PERKARA CABANG

PERHATIAN utama yang harus kita  berikan  dalam  perkara  yang
diperintahkan  ini  ialah  memberikan prioritas kepada perkara
pokok atas cabang. Yaitu mendahulukan  perkara-perkara  pokok,
mendahulukan  hal-hal  yang  berkaitan  dengan iman dan tauhid
kepada  Allah,  iman  kepada  para  malaikatNya,   kitab-kitab
suci-Nya,  rasul-rasul-Nya,  dan  hari  akhir;  yang dikatakan
sebagai rukun iman sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur'an:

   "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat
   itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian
   itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
   malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi..."
   (al-Baqarah:177)
   
   "Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang diturunkan
   kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
   beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
   malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan
   rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak
   membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain)
   dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami
   dengar dan kami tobat." (Mereka berdoa): "Ampunilah
   kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat
   kembali."" (al-Baqarah: 285)
   
   "... Barangsiapa kafir kepada Allah,
   malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
   rasul-rasul-Nya, dan lari kemudian, maka sesungguhnya
   orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (an-Nisa': 136)

Tidak ada ayat yang menyebutkan iman kepada  takdir  sekaligus
memasukkannya  ke dalam pokok aqidah, karena sesungguhnya iman
kepada takdir ini sudah termasuk di dalam  iman  kepada  Allah
SWT.  Iman  kepada  takdir  merupakan  bagian dari iman kepada
kesempurnaan  Ilahi,   ilmu-Nya   yang   meliputi   segalanya,
kehendak-Nya yang luas, dan kekuasaan-Nya yang pasti

Aqidah  adalah  masalah  pokok, sedang syari'ah adalah perkara
cabang.

Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan  perkara
cabang.

Kami  tidak  ingin  memperpanjang  perbincangan para ahli ilmu
kalam di sekitar hubungan amal dan iman, apakah amal merupakan
bagian  dari  iman, ataukah dia merupakan buah darinya? Apakah
iman merupakan syarat bagi terwujudnya  amal  sekaligus  bukti
bagi kesempurnaannya?

Keimanan  yang  benar harus membuahkan amalan. Sejauh keimanan
yang dimiliki oleh seseorang, maka akan sejauh itu  pula  amal
perbuatannya,  dan sejauh itu pula dia melakukan perintah yang
diberikan kepadanya, serta menjauhi larangannya.

Amal perbuatan yang tidak dilandasi  dengan  iman  yang  benar
tidak  akan  ada  nilainya  di  sisi  Allah  SWT;  sebagaimana
digambarkan oleh al-Qur'an berikut ini:

   "... bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang
   disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
   didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
   apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya,
   lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal
   dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
   perhitungan-Nya." (an-Nur: 39)

Oleh karena itu, perkara paling utama  untuk  didahulukan  dan
harus diberi perhatian yang lebih daripada yang lainnya adalah
meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas  kemusyrikan
dan  khurafat,  mengokohkan  benih-benih  keimanan dalam hati,
sehingga membuahkan hasil yang bisa dinikmati dengan izin dari
tuhannya,  yang  akhirnya kalimat tauhid "La ilaha illa Allah"
dapat  bersemayam  di  dalam  jiwa,  menjadi   cahaya   hidup,
menerangi    gelapnya    pemikiran   manusia   dan   kegelapan
perilakunya.

Al-Muhaqqiq Ibn al-Qayyim berkata, "Ketahuilah bahwa  pancaran
sinar 'La ilaha illa Allah' akan dapat menghancurkan noda-noda
dosa sesuai  dengan  kadar  kekuatan  dan  kelemahan  pancaran
cahaya   itu.  Orang  yang  memiliki  pancaran  cahaya  inipun
bermacam-macam kekuatan dan kelemahannya, dan tidak  akan  ada
orang  yang  dapat  menghitungnya kecuali Allah SWT. Di antara
manusia terpadat orang  yang  memiliki  cahaya  itu  di  dalam
hatinya  bagaikan  matahari;  ada yang cahaya di dalam hatinya
itu bagaikan  bintang;  ada  cahaya  yang  bagaikan  api  yang
membara;  ada  yang  seperti lentera; dan yang terakhir sekali
bagaikan lampu yang sangat lemah sinarnya."

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak cahaya-cahaya itu akan
tampak   sesuai  dengan  kadar  keimanan  yang  dimiliki  oleh
manusia. Cahaya itu akan memancar sesuai dengan ilmu dan amal,
makrifat  dan  keadaan  cahaya kalimat yang memancar dari hati
manusia.

Semakin besar  pancaran  cahaya  kalimat  itu  di  dalam  hati
manusia,  maka ia akan membakar segala bentuk syubhat dan hawa
nafsu sesuai dengan kekuatannya. Sehingga kadar pembakaran itu
sampai   kepada   tingkat  pembersihan  yang  sangat  sempurna
terhadap syubhat dan syahwat; yang  pada  akhirnya  tidak  ada
dosa  kecuali  dosa  itu  akan dibakar olehnya. Itulah keadaan
orang  yang  tauhidnya  benar,  yang   tidak   mempersekutukan
sesuatupun dengan Allah SWT.

Siapa  yang  memahami  makna  uraian  tersebut,  maka dia akan
mengetahui makna sabda Nabi saw,

   "Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan api neraka kepada
   orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah, semata-mata
   untuk mencapai keridhaan-Nya."
   
   "Tidak akan masuk api neraka orang yang mengucapkan La
   ilaha illa Allah,"

dan juga sabda-sabda beliau yang lainnya yang  banyak  membuat
kemusykilan   bagi  manusia,  sehingga  mereka  menduga  bahwa
hadits-hadits itu telah dihapuskan. Ada  pula  yang  menyangka
bahwa  hadits-hadits  itu diturunkan sebelum turunnya perintah
dan larangan, serta mapannya syari'ah ini. Sebagian yang  lain
mengartikannya  api  kaum musyrik dan kafir. Dan ada pula yang
mentakwilkan dengan masuk selama-lamanya ke dalam neraka,  dan
berkata,   "Maknanya  ialah  tidak  memasuki  neraka  tersebut
selama-lamanya."  Dan  lain-lain   pentakwilan   yang   kurang
menyenangkan.

Penetap  syari'ah  agama ini --Nabi saw-- tidak menjadikan hal
itu bisa dicapai dengan hanya mengucapkan melalui lidah  saja.
Dan  inilah yang sepatutnya diketahui oleh orang banyak ketika
mereka  menjalankan  ajaran  agama  ini.  Kalimat  itu   harus
diucapkan  melalui  hati  dan  lidah.  Ucapan melalui hati ini
mencakup pengetahuan, pembenaran  terhadap  kalimat  tersebut,
dan  pengetahuan  terhadap hakikat yang dikandungnya. Ada yang
dinafikan dan ada yang ditetapkan. Seseorang mesti  mengetahui
hakikat Ilahiah yang harus dinafikan dari selain Allah, karena
ia hanya  kbusus  bagi-Nya;  serta  ada  sesuatu  yang  sangat
mustahil  dimiliki  oleh  sesuatu  selain  Allah SWT. Wujudnya
makna seperti ini  di  dalam  hati  --secara  ilmu,  ma'rifah,
keyakinan  dan  kenyataan--  sudah  pasti  dapat menyelamatkan
orang yang mengucapkannya dari api neraka.

Orang yang mengucapkan  kalimat  ini  dengan  lidahnya,  tidak
memperhatikan  maknanya,  dan  tidak menghayatinya, dan ucapan
lidahnya tidak sampai kepada hatinya, tidak  mengetahui  kadar
dan  hakikatnya,  tetapi dia mengharapkan pahala darinya, maka
dia hanya akan diperhitungkan berdasarkan apa yang terdapat di
dalam  hatinya. Karena sesungguhnya semua amal perbuatan tidak
akan  diberi  keutamaan   dari   segi   bentuk   luarnya   dan
kuantitasnya.  Amal buatan manusia akan diperhitungkan menurut
keyakinan yang telah ada di dalam hatinya. Dua hal ini (bentuk
luar  dan  keyakinan  dalam  hati)  akan dihitung sebagai satu
kesatuan. Perbedaan di antara kedua hal  ini  adalah  bagaikan
langit dan bumi. Sebagaimana adanya dua orang yang shalat pada
satu baris, tetap  kedudukan  shalat  mereka  berbeda  seperti
langit dan bumi. [Madarij al-Salikin, 1:329-331]
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M