Make your own free website on Tripod.com

[kembali ke artikel]

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

MENGAPA PEMBINAAN LEBIH DIBERI PRIORITAS?
 
MENGAPA pembinaan lebih diberi prioritas daripada peperangan?
 
Dalam memberikan jawaban bagi pertanyaan di  atas  dapat  kami
jelaskan beberapa hal berikut ini:
 
Pertama,  sesungguhnya  peperangan dalam Islam bukan sembarang
perang. Ia adalah  peperangan  dengan  niat  dan  tujuan  yang
sangat  khusus. Ia adalah peperangan dalam membela agama Allah
SWT. Nabi saw  pernah  ditanya  tentang  seorang  lelaki  yang
berperang   karena  perasaan  fanatik  terhadap  kaumnya,  dan
seorang yang berperang agar dia dikatakan  sebagai  pemberani,
serta  orang  yang berperang untuk memperoleh barang pampasan,
manakah di antara mereka  yang  termasuk  berperang  di  jalan
Allah?   Nabi   saw  menjawab,  "Barangsiapa  berperang  untuk
menegakkan kalimat Allah, maka dialah  yang  berada  di  jalan
Allah." 4
 
Sikap  melepaskan  diri  dari  berbagai dorongan duniawi tidak
dapat muncul dengan tiba-tiba, tetapi harus melalui  pembinaan
yang  cukup  panjang,  sehingga  dia melakukan ajaran agamanya
hanya untuk Allah.
 
Kedua, sesungguhnya hasil perjuangan yang ingin dinikmati oleh
orang-orang  Islam yang ikut berperang ialah kemenangan mereka
atas  kekafiran.  Kemenangan  dan  kekuasaan  ini  tidak  akan
diberikan   kecuali   kepada   orang-orang  yang  beriman  dan
melaksanakan   tugas   serta   kewajibannya.   Mereka   adalah
orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah:
 
   "...sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang
   menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar
   Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang
   jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,
   niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan
   menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari
   perbuatan yang mungkar..." (al-Hajj: 40-41)
   
   "Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
   antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa
   Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di
   bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
   sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
   meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya
   untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
   (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan
   menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
   tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku..."
   (an-Nur: 55)
 
Sesungguhnya orang-orang yang diberi kedudukan dan  kemenangan
oleh Allah sebelum pembinaan mereka 'matang,' seringkali malah
melakukan berbagai kerusakan di muka bumi  daripada  melakukan
perbaikan.
 
Ketiga,  menurut  sunnatullah,  kedudukan itu tidak akan dapat
terwujudkan, kecuali setelah orang yang  berhak  memperolehnya
lulus dari berbagai ujian Allah terhadap hati mereka, sehingga
dapat dibedakan antara orang yang buruk hatinya dan orang yang
baik hatinya. Itulah salah satu bentuk pendidikan praktis yang
dialami oleh para nabi dan orang-orang yang menganjurkan orang
lain  untuk  berpegang  kepada ajaran Allah pada setiap zaman.
Imam Syafi'i pernah ditanya, "Manakah yang  lebih  utama  bagi
orang  mu'min, mendapatkan ujian atau mendapatkan kedudukan di
muka bumi ini?" Dia menjawab, "Apakah ada pemberian kedudukkan
sebelum  terjadinya  ujian?  Sesungguhnya  Allah Azza wa Jalla
memberikan kedudukan kepada Yusuf setelah dia mengalami  ujian
dari Allah, sebagaimana yang difirmankan-Nya:
 
   "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di
   negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana
   saja dia kehendaki di bumi Mesir itu..." (Yusuf: 56)
 
Sesungguhnya kedudukan yang diperoleh dengan cara  yang  mudah
dan  gampang  dikhawatirkan  akan mudah dihilangkan oleh orang
yang mendudukinya dan menyia-nyiakan hasilnya. Berbeda  dengan
orang-orang  yang  berjuang dengan jiwa dan harta benda mereka
sendiri, sehingga mereka merasakan suka-duka, dan  ujian  yang
sangat berat hingga dia diberi kemenangan oleh Allah SWT.
 
Catatan kaki:
 
4 Diriwayatkan oleh Jama'ah (Ahmad dan penyusun al-Kutub
  al-Sittah), dari Abu Musa, Shahih Jami' as-Shaghir (6417)
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M