Make your own free website on Tripod.com

[kembali ke artikel]

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

PEMBINAAN SEBELUM JIHAD
 
INILAH yang menjadikan para pembaharu pada hari ini menyerukan
wajibnya    mendahulukan   pendidikan   daripada   peperangan,
mendahulukan pembentukan pribadi  daripada  menduduki  pos-pos
yang penting.
 
Yang  kami maksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini
ialah  membina  manusia  mu'min,  yang  dapat  mengemban  misi
da'wah;  bertanggung  jawab  menyebarkan  risalah Islam; tidak
kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya  dalam
melakukan  perjuangan  di jalan Allah. Pada saat yang sama dia
merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama
dalam  dirinya,  sekaligus  menarik orang lain untuk melakukan
hal  yang  sama.  Dalam  dirinya  orang  melihat  Islam   yang
benar-benar hidup.
 
Pembinaan   dan   pendidikan  manusia  seperti  itu  merupakan
tuntutan  manusia  sepanjang  zaman,  khususnya  apabila  kita
hendak  membuat  landasan bagi agama yang baru, atau umat baru
yang mempunyai misi yang baru. Ketika  ada  suatu  agama  yang
sedang  melemah, kemudian umatnya dihinggapi dengan kerapuhan,
maka agama ini memerlukan  suasana  baru,  dan  umatnya  perlu
dihidupkan.  Maka  tidak  ada  jalan  bagi  agama  itu kecuali
melakukan pembaruan,  menghidupkan  dan  memperbaiki  umatnya.
Yaitu mendidik generasi baru untuk mencapai tujuan yang hendak
dicapainya.
 
Pembinaan  dan  pembentukan  manusia  seperti  itu,  merupakan
gambaran  yang  paling  tepat bagi generasi mu'min yang hendak
mengemban panji perbaikan dan kebangkitan. Usaha  seperti  itu
harus  mendahului  perjuangan  bersenjata untuk mengubah suatu
masyarakat dan mendirikan negara.
 
Oleh karena itu, tugas penting yang dilakukan  oleh  Al-Qur'an
pada  masa  Makkah  --selama tiga belas tahun-- adalah membina
manusia, mendidik generasi baru  dengan  pendidikan  keimanan,
akhlak,  dan  akal  pikirannya  secara  sempurna. Teladan yang
paling sempurna bagi generasi baru ini adalah Rasulullah saw.
 
   "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri
   teladan yang baik bagimu..." (al-Ahzab: 21)
 
Tugas utama al-Qur'an pada  periode  Makkah  ialah  menanamkan
aqidah,  Sifat-sifat  yang baik, akhlak yang mulia; menanamkan
pandangan hidup yang  sehat,  pemikiran  yang  benar;  menolak
keyakinan-keyakinan  Jahiliyah, sifat-sifat buruk yang merusak
pemikiran manusia dan  perilakunya;  serta  menjalin  hubungan
yang  kuat  antara  manusia  dan  tuhannya dengan jalinan yang
tidak dapat dipisahkan.
 
   "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah
   (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit
   (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah
   dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua
   itu. Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
   Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan
   yang berat." (al-Muzzzammil: 1-5)
 
Pembinaan  yang  mendalam  pada   'sekolah'   malam,   sekolah
al-Qur'an  adalah  untuk  mempersiapkan  penerimaan 'perkataan
yang berat' yang ditunggu tunggu olehnya.  Ungkapan  berat  di
sini tidak lain adalah berat dari segi tanggung jawabnya.
 
Kemudian  ayat-ayat  al-Qur'an  turun dengan cara seperti itu,
menanamkan aqidah dan  konsep-konsep;  menanamkan  nilai-nilai
dan   sifat-sifat   mulia;   menyucikan  akal  dan  hati  dari
kotoran-kotoran Jahiliyah;  mendidiknya  di  atas  makna-makna
iman. Pekerjaan yang menuntut kesabaran, keteguhan, ketegaran,
pengorbanan dalam membela  kebenaran  dan  melawan  kebatilan,
dalam  membersihkan  akal  pikiran  dari  penipuan  yang  buta
terhadap para nenek moyang, pemimpin dan pembesar yang  sesat.
Pendidikan  seperti  ini mesti dilakukan sebelum turunnya satu
ayat yang  memerintahkan  peperangan  bersenjata,  pertumpahan
darah terhadap orang-orang musyrik dan para penyembah Taghut.
 
Bahkan   para   sahabat  datang  kepada  Nabi  saw  mengadukan
kepadanya bahwa di antara mereka ada yang dipukul, dan dilukai
oleh  orang-orang  musyrik.  Para sahabat menuntut kepada Nabi
saw untuk  mengangkat  senjata  sebagai  usaha  membela  diri,
memerangi  musuh  mereka  dan  musuh agama mereka. Akan tetapi
Nabi saw berkata kepada mereka,  sebagaimana  dikisakkan  oleh
al-Qur'an:
 
   "... Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah
   sembabyang..." (an-Nisa': 77)
 
Jawaban itu bukan berarti  melecehkan  perjuangan  bersenjata,
yang  merupakan  puncak  pengabdian  dalam  Islam. Akan tetapi
jawaban itu ada kaitannya dengan pelbagai pemberian prioritas;
khususnya   prioritas   terhadap  pendidikan  dan  pembentukan
pribadi Muslim.
 
Di antara pendidikan yang baik yaitu menyiapkan jiwa-jiwa yang
sanggup  berperang  ketika tiba masanya untuk itu, sebagaimana
dijelaskan dalam surat al-Muzzammil:
 
   "...Dia mengetahui balnva akan ada di antara kamu
   orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan
   di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang
   yang lain lagi yang berperang di jalan Allah..."
   (al-Muzzammil: 20)
 
Perjuangan yang terakhir ialah perjuangan bersenjata, berjuang
dengan  pedang  dan tombak. Sedangkan perjuangan dengan da'wah
dan  memberikan  penjelasan  kepada  manusia,  dan  perjuangan
dengan  al-Qur'an adalah perjuangan yang harus dilakukan sejak
hari pertama. Dalam surat  al-Furqan  --yang  tergolong  surat
Makkiyah-- Allah SWT berfirman kepada Rasulullah saw:
 
   "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan
   berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur'an dengan
   jihad yang besar" (al-Furqan: 52)
 
Begitu pula berjihad  dalam  kesabaran  dan  keteguhan,  serta
mempertahankan  diri  ketika menerima siksaan dari orang-orang
kafir  ketika  berda'wah  di  jalan  Allah.   Begitulah   yang
disebutkan pada awal surat al-Ankabut:
 
   "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
   (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka
   tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji
   orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
   mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
   mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang
   yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka
   akan luput (dan azab) Kami? Amatlah buruk apa yang
   mereka tetapkan itu. Barangsiapa yang mengharap
   pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang
   dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah yang
   Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa
   yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah
   untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar
   Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dan semesta
   alam." (al-Ankabut: 2-6)
 
Pendidikan yang sedang kita bincangkan adalah  termasuk  jenis
pendidikan ini, yakni berjihad di jalan Allah.
 
Imam   Ibn  al-Qayyim  menyebutkan  dalam  al-Hady  al-Nabawi,
terdapat tiga belas tingkatan  jihad.  Empat  tingkatan  jihad
yang berkaitan dengan jihad terhadap hawa nafsu, dua tingkatan
jihad terhadap  setan,  tiga  tingkatan  jihad  kepada  pelaku
kezaliman,   bid'ah,  dan  kemungkaran,  dan  empat  tingkatan
lainnyajihad terhadap  orang-orang  kafir,  dan  jihad  dengan
hati,  lidah,  dan  harta  benda. Jihad yang mesti ditempatkan
pada urutan yang terakhir ialah jihad dengan jiwa  dan  tangan
kita."
 
Dia  melanjutkan,  "Karena  jihad yang paling utama itu adalah
mengatakan sesuatu yang benar di hadapan suasana  yang  sangat
keras;  seperti  mengucapkan  kebenaran  di hadapan orang yang
ditakutkan siksaannya,  maka  dalam  hal  ini  Rasulullah  saw
menduduki tempat jihad yang tertinggi dan paling sempurna."
 
Karena  jihad terhadap musuh-musuh Allah merupakan bagian dari
jihad seorang hamba terhadap hawa nafsunya dalam meniti  jalan
Allah; sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw,
 
   "Orang yang sebenanya berjihad ialah orang yang
   berjihad melawan hawa nafsunya dalam meniti ketaatan
   terhadap Allah. Dan orang yang sebenanya berhijrah
   ialah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang
   oleh-Nya." 1
 
Maka sesungguhnya jihad terhadap hawa nafsu harus  didahulukan
daripada jihad terhadap musuh Islam. Karena sesungguhnya orang
yang belum berjihad  melawan  hawa  nafsunya  terlebih  dahulu
untuk   mengerjakan  apa  yang  diperintahkan  kepadanya,  dan
meninggalkan apa yang dilarang baginya, serta memeranginya  di
jalan  Allah,  maka  dia  tidak boleh melakukan jihad terhadap
musuh yang ada di luar dirinya. Bagaimana  mungkin  dia  dapat
melawan  musuh dari luar, pada saat yang sama musuh dari dalam
dirinya masih menguasainya dan  tidak  dia  perangi  di  jalan
Allah  SWT? Sehingga tidak mungkin ia keluar melawan musuhnya,
sebelum dia memerangi musuh yang berada di dalam dirinya.
 
Dengan  adanya  dua  musuh  ini,  seorang  hamba  diuji  untuk
melawannya. Dan di antara kedua musuh ini masih ada musuh yang
ketiga, yang tidak mungkin baginya untuk memerangi kedua musuh
itu  kecuali  dengan  melakukan  perang terlebih dahulu kepada
musuh yang ketiga ini. Musuh  ini  berdiri  menghalangi  hamba
Allah untuk melakukan peperangan terhadap kedua musuh itu. Dia
selalu menggoda hamba  Allah  dan  menggambarkan  bahwa  kedua
musuh  itu begitu berat baginya, karena dengan memerangi kedua
musuh itu manusia akan meninggalkan perkara-perkara yang lezat
dan  enak.  Sesungguhnya  manusia  tidak  akan dapat memerangi
kedua musuh itu  kecuali  dia  telah  mengalahkan  musuh  yang
ketiga.  Perang terhadap musuh yang ketiga ini merupakan dasar
bagi peperangan terhadap musuh yang pertama dan  kedua.  Musuh
yang ketiga itu adalah setan. Allah SWT berfirman:
 
   "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka
   jadikanlah ia sebagai musuhmu ..." (Fathir: 6).
 
Perintah  untuk  menjadikan  setan  sebagai  musuh   merupakan
peringatan bahwa kita harus mempergunakan segala kekuatan kita
untuk memeranginya. Seakan-akan dia adalah  musuh  yang  tidak
ada  hentinya,  dan  tidak  ada  seorang  hambapun  yang boleh
melalaikan perang terhadapnya.
 
Itulah tiga musuh yang  harus  diperangi  oleh  manusia.  Kaum
Muslimin  telah  diuji untuk memerangi ketiga musuh itu karena
ketiga-tiganya telah menguasai diri mereka sebagai ujian  dari
Allah  SWT...  sebagian  orang  di  antara  mereka  diciptakan
sebagai ujian atas sebagian yang lain, untuk menguji  siapakah
yang  betul-betul  membela  Rasulullah  saw  dan siapakah yang
termasuk dalam kelompok yang membela setan.
 
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang  beriman  agar
betul-betul  berjuang,  sebagaimana  mereka diperintahkan agar
betul-betul  bertaqwa  kepada-Nya.  Taqwa  yang  benar   ialah
mentaati  Allah  SWT  dan  tidak  bermaksiat kepada-Nya, ingat
kepada-Nya dan tidak melupakan, bersyukur kepada-Nya dan tidak
mengingkari-Nya.  Dan jihad yang benar ialah berjihad terhadap
hawa nafsunya, untuk  menyerahkan  hati,  lidah,  dan  seluruh
anggota  tubuhnya  kepada  Allah.  Semua  untuk Allah dan demi
Allah, bukan untuk dirinya dan  demi  dirinya  sendiri.  Orang
mu'min  yang  benar  ialah  orang  yang  memerangi  setan  dan
mendustakan    janji-janji     yang     diberikan     olehnya,
mengingkarinya, dan menentang larangannya. Sesungguhnya, setan
memberikan janji  dan  harapan  yang  palsu,  menipu  manusia,
menyuruh kepada perbuatan keji, dan melarangnya untuk bertaqwa
kepada Allah  SWT,  melarangnya  menjaga  kesucian  diri,  dan
melarang untuk beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, perangilah
setan,   dustakan   segala   janjinya,   dan   jangan   turuti
perintahnya.  Sehingga  dengan  demikian  akan tumbuh kekuatan
untuk melakukan peperangan terhadap musuh-musuh Allah SWT yang
berada  di luar dirinya, dengan hati, lidah, tangan, dan harta
kekayaannya, untuk menegakkan kalimat Allah yang Maha Tinggi.
 
Ibn al-Qayyim berkata, "Jika perkara itu telah dipahami,  maka
sesungguhnya   jihad   itu  memiliki  empat  tingkatan:  Jihad
terhadap hawa nafsu,  jihad  terhadap  setan,  jihad  terhadap
orang-orang kafir, dan jihad terhadap orang-orang munafiq."
 
Sementara jihad terhadap diri sendiri, musuh yang ada di dalam
diri manusia itu juga memiliki empat tingkatan:
 
Pertama, berjihad  terhadap  diri  sendiri  untuk  mengajarkan
petunjuk  kepadanya,  petunjuk agama yang benar yang tidak ada
kemenangan, kebahagian hidup di dunia dan di  akhirat  kecuali
dengannya.  Kalau  manusia tidak mengetahui petunjuk tersebut,
maka dia akan mengalami kesengsaraan hidup  di  dunia  dan  di
akhirat
 
Kedua,   berjihad   terhadapnya  untuk  melaksanakan  petunjuk
tersebut setelah diketahuinya. Jika  tidak,  maka  pengetahuan
yang  dimilikinya  hanya  akan berwujud ilmu pengetahuan tanpa
amal. Kalaupun ilmu itu tidak  membahayakannya,  tetapi  pasti
tidak bermanfaat baginya.
 
Ketiga,  berjuang  terhadap  diri sendiri untuk mengajak orang
lain kepada petunjuk  tersebut,  mengajari  orang  yang  belum
mengetahuinya.  Jika  tidak, maka dia akan termasuk orang yang
menyembunyikan petunjuk dan penjelasan  yang  diturunkan  oleh
All   ah   SWT.  Ilmunya  tidak  bermanfaat,  dan  tidak  akan
menyelamatkannya dari azab Allah SWT.
 
Keempat, berjuang  dengan  penuh  kesabaran  dalam  menghadapi
berbagai  kesulitan  dalam mengajak orang lain kepada petunjuk
Allah SWT. Dia bertahan terhadap berbagai kesulitan itu karena
Allah SWT.
 
Apabila  empat  tingkatan jihad ini telah dapat dilalui dengan
sempurna, maka dia akan menjadi manusia  rabbani.  Para  ulama
salaf  sepakat bahwasanya orang yang memiliki ilmu pengetahuan
tidak berhak untuk disebut sebagai manusia rabbani sampai  dia
mengetahui   kebenaran,   mengamalkannya,  dan  mengajarkannya
kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang yang  mempunyai  ilmu
pengetahuan,  mengamalkannya,  dan mengajarkannya kepada orang
lain dapat  disebut  sebagai  orang  yang  mulia  di  kerajaan
langit.
 
Adapun berjuang melawan setan itu ada dua tingkatan.
 
Pertama, berjihad untuk menolak berbagai  bentuk  syubhat  dan
keraguan  yang  mengotori  iman agar tidak sampai kepada hamba
Allah SWT.
 
Kedua, berjihad untuk menolak berbagai kehendak  yang  merusak
dan  nafsu syahwat agar tidak sampai kepada mereka. Jihad yang
pertama harus dilakukan dengan keyakinan, dan jihad yang kedua
harus dilawan dengan kesabaran. Allah SWT berfirman:
 
   "Dan Kami jadikan di antara mereka itu
   pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
   perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka
   meyakini ayat-ayat Kami." (as-Sajdah: 24)
 
Sedangkan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq  juga
ada  empat  tingkatan: dengan hati, dengan lidah, dengan harta
benda, dan dengan jiwa. Jihad melawan  orang-orang  kafir  itu
khusus   dilakukan  dengan  tangan,  sedangkan  jihad  melawan
orang-orang munafiq dilakukan dengan lidah.
 
Adapun  jihad   terhadap   pelaku   kezaliman,   bid'ah,   dan
kemungkaran  ada  tiga  tingkatan: Dengan tangan apabila mampu
melakukannya. Jika tidak, maka berjihad dengan lidah. Dan bila
tingkatan  yang  kedua  ini juga tidak mampu dia lakukan, maka
harus berjuang dengan hati. Itulah tiga belas tingkatan  dalam
melakukan jihad.2 Dalam sebuah hadits disebutkan:
 
   "Barangsiapa meninggal dunia tidak pernah berjihad,
   dan tidak pernah berniat untuk berjihad, maka dia akan
   meninggal dunia di atas kemunafiqan." 3
 
Tidak diragukan lagi bahwa enam  tingkat  yang  pertama  dalam
jihad  di atas termasuk ke dalam kategori pendidikan yang kita
maksudkan dalam pembahasan ini. Tingkatan yang  pertama  ialah
berjihad melawan diri sendiri dan berjuang melawan setan.
 
Catatan kaki:
 
 1 Diriwayatkan oleh Ahmad, 6: 21, dari Fudhalah bin 'Ubaid
   dengan lafal, "Orang yang berhijrah ialah orang yang berhijrah
   dari kesalahan dan dosa-dosa." yang di-shahih-kan oleh Ibn
   Hibban (al-Ihsan. 4862); al-Hakim, 1: 11; yang di-shahih-kan
   olehnya sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan
   Muslim. yang juga disepakati oleh adz-Dzahabi.
   
 2 Lihatlah Zad al-Ma'ad, 3:5-11, cet. Mu'assasah ar-Risalah,
   yang ditahqiq oleh Syu'aib al-Arnauth.
   
 3 Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Imarah (1910) dari Abu
   Hurairah r.a.
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M